Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

PLTN = REVOLUSI KEBIASAAN INDONESIA

Rencana pembangunan PLTN di Indonesia sebagai solusi krisis energi belakangan ini menuai protes yang tidak sedikit. PLTN yang muncul sebagai dewa penyelamat bertabir “listrik mudah, aman, dan ramah lingkungan”, tampaknya tidak mudah menghapus deretan daftar dosa nuklir yang sudah mendarah daging di Indonesia. Benarkah Indonesia membutuhkan PLTN sebagai solusi krisis energi berkepanjangan di negeri ini? Rencana pembangunan PLTN pada 2016 yang harus mundur sampai tahun 2020 sudah cukup memperlihatkan betapa Negara kita belum siap menyongsong “dewa penyelamat” energi ini. Hal ini cukup beralasan, karena PLTN tidak bisa dibangun di tempat yang rawan gempa. Hal ini ditakutkan bisa mengakibatkan kerusakan pada komponen vital reaktor yang bisa berakibat fatal. PLTN diagung-agungkan sebagai pembangkit listrik yang murah. Biaya bahan bakar yang diklaim lebih murah, serta biaya operasional yang lebih sedikit dari pembangkit listrik lainnya dianggap sebagai daya tarik utamanya (Indonesia sangat tahu hal ini benar, karena pemerintah umumnya cenderung “pelit” dalam hal memberi dana untuk sesuatu yang penting). Ditambah lagi PLTN adalah salah satu pembangkit listrik yang eco-friendly. Minimnya emisi karbon dan minimnya radiasi (tentunya jika semua prosedur dipatuhi) membuatnya pantas dibangun demi alas an lingkungan hidup yang kini sudah saatnya diberi perhatikan lebih.

Hal yang harus diperhatikan adalah masalah kecelakaan. Kejadian di Chernobyl, Ukraina, sudah cukup untuk menjadi teladan bagi bangsa lain yang ingin membangun PLTN (walaupun sebenarnya hal ini sidebabkan murni human error dan tidak dipatuhinya standar keamanan dengan tidak membangun containment bulding/bangunan penahan). Hal inilah yang mengakibatkan kecelakaan reaktor sebagai masalah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Resiko radiasi sinar gamma yang beresiko mengakibatkan kanker dan mutasi genetik adalah mimpi buruk bagi setiap orang yang pernah menyaksikannya. Hal yang paling ditakutkan adalah bahwa teknologi ini harus dikerjakan oleh bangsa Indonesia (yang tidak perlu lagi diragukan kelalaiannya). Jangankan PLTN yangmerupakan teknologi termutakhir dalam bidang energi, pembangkit listrik tenaga bahan bakar saja sudah “kelimpungan” di sana-sini jika ada kerusakan, pake nyalahin orang lain lagi. Rencana merekrut ahli dari luar negeri semakin menunjukkan ketergantungan bangsa ini dengan negara luar. Saya rasa hal ini sah-sah saja, selama masih memberikan hasil yang baik yang baik dan tidak merugikan bangsa kita. Jika pemerintah tetap “ngotot” ingin membangun PLTN, maka negara ini harus siap-siap mengalami revolusi kebiasaan besar-besaran pada kebiasaan bangsa ini yang suka “sembrono”. Pemerintah dan BATAN harus bisa memberikan rasa aman bagi penduduk di sekitar PLTN. Penelitian lebih lanjut dan lebih intensif dalam cara mengolah limbah nuklir dan pada proses decomissioning harus dilakukan. Tidak mungkin kita harus menunggu selama 60 tahun (dengan teknologi termutakhir untuk mempercepat limbah nuklir meluruh) untuk menunggu limbah nuklir aman bagi lingkungan. Seharusnya, pemerintah lebih menggalakkan penelitian terhadap sumber energy terbaharui. Bukankah sumber energi terbaharui lebih aman dan ramah lingkungan?
Bukankah sumber energi ini lebih murah? Bukankah potensi energi terbaharui sebagai sumber pendapatan yang menguntungkan setiap orang lebih besar? Memang sumber energi terbaharui tidak menghasilkan daya yang tidak sebanding dengan nuklir, tapi tetap saja manusia sangat membutuhkan rasa aman yang sudah merupakan hak dasar setiap orang.
Jika manusia disuruh memilih antara hidup berkecukupan dengan rasa aman, pastilah setiap orang yang normal akan memilih rasa aman (bukankah jika ada bencana alam semua orang lebih dahulu menelamatkan diri, bukan hartanya?). Untuk itu, jika pemerintah ingin membangun PLTN, sebaiknya dipikirkan lebih lanjut dan lebih mendalam, apa baik dan buruknya. Pemerintah dan para ahli nuklir harus mau bekerja keras dan tidak main-main karena hal ini mempertaruhkan nasib khalayak ramai.
Semoga BATAN tetap menaati visi mereka, menciptakan teknologi nuklir
berkeselamatan handal.

PLTN, TEKNOLOGI PROSPEKTIF UNTUK MASA DEPAN

Stigma bahwa nuklir merupakan senjata pemusnah massal sudah melekat pada pemikiran mayoritas masyarakat Indonesia. Nuklir hanya dianggap sebatas bom dan peralatan perang yang memiliki daya ledak sangat besar sehingga orang-orang merasa
takut karenanya. Propaganda melalui media cetak maupun elektronik yang hanya mengekspos bahaya nuklir menimbulkan paradigma sepihak, akibatnya masyarakat menjadi terprovokasi dan menolak pengembangan teknologi nuklir di Indonesia. Hal ini pada dasarnya disebabkan oleh kekurangtahuan mereka tentang teknologi nuklir. Minimnya sosialisasi serta rasa trauma akan peristiwa Chernobyl menimbulkan bayang-bayang gelap di benak masyarakat. Kita harus membuka mata bahwa sebenarnya nuklir juga bisa menjadi jawaban atas krisis energi yang terjadi di bumi. Hanya energi nuklir yang menawarkan solusi efektif guna memerangi keterbatasan energi yang kita miliki. Energi nuklir tidak memancarkan gas rumah kaca sehingga tidak merusak atmosfer. Salah satu pengembangannya dapat kita aplikasikan dengan membangun PLTN.

Teknologi PLTN sangat ramah lingkungan karena tidak menghasilkan karbon dioksida, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. PLTN pun bebas emisi karbon sehingga dapat membantu mengurangi pemanasan global. PLTN juga menghasilkan limbah, namun diproses dengan baik dan tidak dibuang ke lingkungan. Adapun limbah PLTN terbagi menjadi 2, yaitu limbah tingkat tinggi dan limbah tingkat rendah. Limbah tingkat tinggi dapat digunakan kembali untuk bahan bakar PLTN sehingga mampu membangkitkan listrik. Memang biaya untuk infrastrukturnya besar, namun hasilnya nanti dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dengan PLTN, listrik bisa lebih murah. Walau demikian, sangat disayangkan bahwa pembangunan PLTN di Indonesia seringkali mengalami beberapa kendala. Salah satu faktornya disebabkan karena isu-isu yang berkembang di kalangan masyarakat luas sehingga mereka tidak menyetujui pembangunan PLTN. Adapun penentangan ini salah satunya berakar dari budaya korupsi di Indonesia yang sudah merajalela. Bayangkan apabila terjadi korupsi bahan bangunan dalam pembangunan PLTN (seharusnya menggunakan baja dengan kualitas terbaik, namun dibelikan baja dengan kualitas biasa saja), pastilah akan menimbulkan bencana yang sangat besar bagi manusia dan lingkungan. Selain itu, masyarakat juga masih khawatir akan terjadinya radiasi. Meskipun beton dengan tebal satu setengah meter mengelilingi seluruh sisi bangunan, namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya kebocoran. Bahkan lubang yang sangat kecil sekalipun dapat berakibat fatal. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi isu-isu yang tumbuh berkembang di masyarakat, dibutuhkan kerja sama yang baik dan hubungan yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus memberikan anggaran yang transparan kepada publik, sehingga publik dapat ikut serta memantau dan mengawasi kerja pemerintah setiap saat. Masyarakat juga diharapkan dapat mendukung dan memberikan kepercayaan pada pemerintah, sebagai wakil rakyat, untuk dapat mengelola rumah tangga negara ini dengan baik. Memang bukan tidak mungkin kalau suatu saat nanti akan timbul dampakdampak negatif dari PLTN, namun perlu digaris bawahi bahwa setiap kecelakaan, radiasi, atau hal membahayakan lainnya hanya akan terjadi apabila terdapat kesalahan manusia (human error). Maka dari itu sangat diperlukan pengawasan yang ketat selama 24 jam, baik dalam proses pembangunan maupun pengoperasian PLTN.
Dalam pengelolaannya, keselamatan harus menjadi prioritas paling utama. Untuk itu, PLTN harus dibangun pada lahan yang stabil, yang terhindar atau terbebas dari fenomena-fenomana alam yang mengancam, seperti gempa bumi, vulkanologi, tsunami, dsb. Pembangunannya harus jauh dari tempat pemukiman penduduk, misalnya di luar Pulau Jawa. Tempat-tempat yang dapat membahayakan keberadaan PLTN juga harus dihindari, seperti bandara, gedung amunisi militer, dll. Selain itu, PLTN harus dibangun di lokasi yang mampu memasok cadangan listrik yang cukup guna memperlancar pengoperasiannya, serta diperlukan adanya peraturan, pengawasan, serta kedisiplinan tinggi dari semua pihak yang terlibat. Operator dan pengawas harus terdiri dari orang-orang yang berdedikasi dan berkompeten. Teknologi yang digunakan pun harus teknologi yang sudah teruji dengan system pertahanan berlapis. Karenanya, pemerintah harus memberi gaji yang memadai untuk para pekerja PLTN, sebab demi pekerjaan ini mereka harus menanggung resiko yang besar.
Mengingat begitu signifikannya perkembangan teknologi ke depan, kita tidak mungkin meninggalkan dan melupakan teknologi nuklir begitu saja. Selain menjadi solusi bagi krisis energi, teknologi nuklir pun dapat mengatasi krisis yang lain, seperti krisis air bersih yang diperlukan untuk konsumsi manusia dan irigasi. Nuklir dapat menjadi jawaban untuk krisis nasional jangka panjang, juga sangat membantu kelangsungan hidup manusia karena dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti kedokteran, pertanian, peternakan, hidrologi, industri, dan pangan. “Janganlah takut terhadap sesuatu yang belum diketahui. Dengan ilmu, sesuatu yang berbahaya bisa menjadi aman” merupakan kutipan dari sebuah cover buku yang layak kita tanamkan dalam pikiran kita. Suatu saat nanti, ketika bangsa kita sudah berhasil memajukan teknologi nuklir, kita dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada negara-negara lain sehingga kita dapat turut menciptakan perdamaian dunia melalui sains.

Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

Proyek Manhattan yang disponsori pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1930-an telah menjadikan ilmu pengetahuan tentang reaksi nuklir sebagai sebuah senjata yang mengerikan dengan dalih menciptakan perdamaian untuk menciptakan tatanan dunia baru. Dengan alasan mengakhiri Perang Dunia Ke-2, dua kota di Jepang menjadi saksi dahsyatnya efek yang ditimbulkan oleh bom nuklir tersebut. Sebagai catatan, sampai saat ini hanya Amerika Serikat saja yang pernah menggunakan senjata nuklir pada pertempuran sebenarnya. Mungkin sejak saat itu masyarakat dunia mempunyai sudut pandang lain yang tidak bijak mengenai nuklir, walaupun menurut perhitungan sebenarnya bom nuklir tidak seberapa mengerikan jika dibandingkan dengan bom hidrogen. Ditambah lagi dengan kejadian-kejadian lain seperti insiden yang terjadi di Chernobyl, Rusia, dimana ratusan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi dikarenakan ledakan di instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut. Film-film
Holywood juga memperparah persepsi keliru tersebut dengan seringnya menempatkan nuklir sebagai bagian dari tokoh antagonis yang ingin merusak tatanan dunia.

Pemanfaatan teknologi nuklir sebagai sumber energi telah lama dilakukan di negara-negara maju seperti AS, Perancis, Jepang, atau negara yang mempunyai kepentingan politis seperti India, Pakistan, dan Iran. Secara ekonomis, sumber energi radioaktif ini lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil yang dimungkinkan tidak akan bertahan dalam waktu seratus tahun lagi. Cadangan zat radioaktif, salah satunya uranium, di dunia ini bila dikonversi ke satuan energi secara matematis jauh lebih besar jika dibandingkan dengan cadangan bahan bakar fosil yang ada. Sehingga bisa memberikan waktu yang lebih dari cukup kepada umat manusia untuk mencari sumber energi alternatif lainnya jika suatu saat energi nuklir juga habis. Sebenarnya penggunaan elemen nuklir tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari dan memberikan manfaat yang tidak sedikit. Selain sebagai sumber energi, zat radioaktif tersebut juga digunakan dalam berbagai bidang misalnya aplikasi MRI dalam bidang kesehatan, rekayasa genetik bibit dalam pertanian hingga dalam pengetahuan eksplorasi luar angkasa.
Indonesia, terutama pulau jawa sebagai nadi perekonomian bangsa dalam beberapa tahun kedepan akan mengalami defisit energi yang semakin parah jika tidak segera ditanggulangi. Peningkatan kebutuhan listrik untuk sektor rumah tangga dan industri tidak sejalan dengan tingkat pertumbuhan pembangkit listrik nasional. Hal tersebut jika dibiarkan akan mengakibatkan kemunduran ekonomi secara agregat dan kekacauan sosial akibat semakin seringnya pemadaman bergilir. Oleh karena itu untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah menggulirkan rencana pembangunan PLTN pertama di Muria.
Pada dasarnya Indonesia mempunyai sumberdaya manusia dan alam yang lebih dari cukup untuk membangun dan mengoperasikan instalasi energi nuklir, bahkan diperkirakan cadangan tambang uranium Indonesia bisa dimanfaatkan hingga ratusan tahun. Diharapkan dengan energi yang relatif murah ini, tercipta multiplier effect sehingga kesejahteraan bangsa bisa terangkat dan kompetensi di dunia Internasional semakin meningkat. Secara garis besar, masyarakat Indonesia terutama kalangan industri antusias dan menyambut baik dengan rencana pemerintah untuk mendirikan pembangkit tenaga nuklir karena secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian bangsa dan menciptakan jutaan lapangan kerja baru selama beberapa dekade ke depan. Kedepannya, pembangunan PLTN di luar jawa juga akan memberikan kontribusi positif terhadap sosial ekonomi dan pertahanan Indonesia secara keseluruhan.
Selama ini riset dan pemanfaatan sumber nuklir di Indonesia belum mencapai taraf pemanfaatan secara massal dikarenakan tarik ulur politik Indonesia di dunia internasional yang tidak menginginkan dominasi negara maju terhadap nuklir tergoyahkan. Untuk di dalam negeri sendiri, kendala terjadi karena belum adanya sosialisasi yang tepat tentang tentang nuklir tersebut. Sebagian kecil masyarakat cenderung antipati dikarenakan belum paham betul tentang isu tersebut. Disinilah tugas pemerintah untuk memberikan gambaran obyektif tentang apa yang sebenarnya terjadi seperti yang diuraikan diatas.
Memang energi nuklir bukannya tanpa risiko. Dalam pengoperasiannya, standar operasi dan prosedur harus dilaksanakan. Pemeliharaan dan evaluasi setiap saat merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar. Sebagai contoh, insiden yang terjadi di Chernobyl pada tahun 1980an di curigai akibat kelalaian manusia yang berujung maut. Belum lagi sampah nuklir sebagai residu dari reaksi berantai, bisa menimbulkan pencemaran radioaktif jika tidak diolah dan dikemas dengan sempurna. Sampah tersebut
cenderung tidak bisa didaur ulang. Sebagai catatan, radiasi mematikan dari sampah tersebut tidak akan hilang dalam waktu ratusan tahun. Dari sisi kesehatan, banyak kasus terjadi bahwa pekerja di PLTN mengalami keracunan radioaktif akibat terpapar radiasi dalam waktu relatif lama saat bekerja di instalasi nuklir. Pada dasarnya tidak ada benda yang bisa mengisolasi radiasi nuklir dengan sempurna, termasuk timbal. Oleh karena itu semakin sedikit kontak fisik langsung manusia dengan nuklir, maka semakin baik. Faktor geologi juga berperan penting dalam pendirian sebuah instalasi energi nuklir.
Atas dasar itu juga pemerintah berencana memilih daerah Muria sebagai tempat pertama
untuk membangun instalasi karena tempat tersebut kondisi geologinya relatif stabil dan jauh dari akses sebagian besar penduduk untuk mengeliminasi kemungkinan yang
timbul. Suatu saat nanti dengan semakin banyaknya PLTN yang dibuat di Indonesia,
saya berharap ketimpangan sosial antara pulau-pulau akan berkurang dan bangsa Indonesia bisa menatap masa depan dengan lebih cerah dan sejajar dengan negara maju
lainnya. Amin

Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

A. Isu Proyek Pembangunan PLTN
Tenaga Nuklir kian ramai dibicarakan dalam setiap pertemuan-pertemuan penting di berbagai belahan dunia. Indonesia pun turut andil dalam pengembangannya. Bila dilihat dari sejarah dan pengalaman bangsa Indonesia, sebenarnya nuklir bukanlah barang baru bagi Indonesia. Terbukti pada tahun 50-an Presiden pertama Indonesia Soekarno sudah mulai mewujudkan visi tentang energi nuklir, dengan harapan Indonesia akan diakui oleh dunia internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Alasan utama Indonesia dalam pengembangan PLTN adalah kebutuhan energi yang besar oleh masyarakat Indonesia dengan populasi penduduk yang sangat padat.
Banyak masyarakat Indonesia yang menentang pembangunan PLTN karena dianggap hanya akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Setiap permasalahan memiliki solusi, sikap optimistis perlu diterapkan untuk proyek besar seperti ini. Para peneliti yang bekerja pada BATAN (Badan Peneliti Atom Nasional) melalui sarana dan fasilitas yang ada melakukan riset teknologi nuklir untuk pengembangan industri nuklir seperti teknologi reaktor dan keselamatan nuklir dengan menggunakan reaktor riset berdaya 30 MWth, fabrikasi bahan bakar nuklir, pengelolaan limbah radioaktif, keselamatan radiasi dan lingkungan dilakukan dalam rangka persiapan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Adapun dasar pertimbangan pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik yang lebih jelas dan tegas, tercantum pada Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang. Cukup jelas keseriusan pemerintah dalam perencanaan pembangunan PLTN maka masyarakat tidak perlu merasa takut berlebih karena pastinya para peniliti berpikir panjang mengenai pengelolaan limbah nuklir.
B. Pemanfaat Tenaga Nuklir
Tenaga nuklir diharapkan bisa menjadi sumber energi masa depan Indonesia. Karena tenaga nuklir memiliki manfaat yang sangat banyak. Dengan adanya tenaga nuklir, diyakini bisa menambah pasokan listrik di Indonesia, terutama di pulau padat penduduk seperti yang ada di pulau Jawa. Selain itu diharapkan masyarakat Indonesia
tidak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap petroleum, dengan demikian Indonesia dapat memproduksi minyak bumi lebih banyak. Selain itu, emisi gas dapat berkurang.
Tenaga nuklir juga dimanfaatkan pada bidang-bidang lainnya seperti bidang pertanian, peternakan, hidrologi, industri, kesehatan, penggunaan zat radioaktif dan sinar-X untuk radiografi, logging, gauging, analisa bahan, kaos lampu, perunut (tracer) dan lain-lain. Dalam bidang penelitian terutama banyak dilakukan oleh BATAN mulai dari skala kecil sampai dengan skala besar. Pemanfaatan dalam bidang kesehatan dapat dilihat seperti untuk diagnosa, kedokteran nuklir, penggunaan untuk terapi dimana radiasi digunakan untuk membunuh sel-sel kanker.
C. PLTN butuh lokasi yang tepat
Salah satu hal penting dalam perencanaan adalah lokasi pembangunan. Ada beberapa hal yang dikhawatirkan, yakni secara geografis cukup banyak wilayah Indonesia yang berada di atas patahan-patahan tektonik yang rentan akan gempa bumi. Sehingga lokasi yang tepat adalah lokasi yang tidak rawan terhadap gempa bumi. Badan Peneliti Atom Nasional telah meneliti sejumlah wilayah di pulau Jawa yang kira-kira tepat untuk proyek pembangunan PLTN, dan berita terakhir menyebutkan bahwa Semenanjung Muria adalah lokasi yang dituju. Pihak BATAN berpendapat, wilayah Jepara dinilai aman dari patahan-patahan tektonik yang menyebabkan gempa, dan juga letak geografisnya yang di ujung pantai juga strategis dalam mendukung teknologi pendingin sisi nuklir yang akan menggunakan air laut.
Namun sepertinya hal itu kurang tepat mengingat populasi penduduk yang padat di pulau Jawa dan dipastikan lokasi pembangunan tidak jauh dari pemukiman penduduk, kita pun perlu mengingat limbah nuklir yang sangat berbahaya. Di samping itu pembangunan PLTN berarti membuka lapangan kerja baru yang mendorong masyarakat berbondong-bondong pergi ke pulau Jawa dan akan menambah kepadatan penduduk. Sehingga program transmigrasi pemerintah akan terhambat. Hal penting lainnya adalah, kondisi tanah Jawa sangat subur untuk pertanian dan masih produktif. Rasanya kurang bijaksana apabila harus mengorbankan sisi produktifitasnya. Lokasi yang cukup tepat adalah seperti lokasi reaktor nuklir di Gorontalo, karena menurut penelitian lahannya sudah tidak produktif lagi dan jauh dari pemukiman penduduk.
D. Indonesia Telah siap
Menurut BATAN, diantara negara-negara berkembang dan pendatang baru di bidang pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkit listrik, Indonesia dinilai yang paling maju terutama dari kesiapan SDM dan infrastruktur, termasuk dalam aspek safeguards. Amerika Serikat dan Rusia pun telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan Indonesia dalam proyek pembangunan reaktor nuklir, hal ini menunjukkan kepercayaan mereka terhadap potensi nuklir yang dimiliki Indonesia.
Kini hanya tinggal menunggu kesiapan masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, Pemerintah dan peneliti harus segera melakukan publikasi dan sosialisasi mengenai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Karena masyarakat Indonesia masih kurang akan pengetahuan tenaga nuklir. Diharapkan agar masyarakat dapat melihat berbagai macam perspektif dan dapat berpikir kritis untuk kepentingan bersama.
Situasi berubah cepat mengikuti alur waktu. Masyarakat Indonesia harus jeli melihat kemajuan teknologi yang dan berpikir terbuka terhadap hal-hal baru namun tetap selektif.

ATASI KRISIS ENERGI & GLOBAL WARMING DENGAN TEKNOLOGI NUKLIR

Kenaikan harga bahan bakar di Indonesia semakin memicu perdebatan dikalangan masyarakat bahkan para wakil rakyat. Semakin menipisnya sumber energi tak terbarukan(seperti minyak bumi, gas, dan batu bara yang menjadi sumber energi listrik terbesar di dunia) mendorong putra putri bangsa untuk berkontribusi dalam menciptakan sumber energi alternatif. Namun, penawaran solusi tersebut sepertinya berhenti sampai pada tahap penyampaian pendapat saja, belum ada upaya merealisasikan secara pasti.

Ketika krisis listrik kembali terjadi, yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki jaringan, menambah daya terpasang, meningkatkan menejemen operator, lalu tentu saja rakyat kembali dibebankan kenaikan harga termasuk tarif dasar listrik. Di lain pihak, pemerintah telah mengupayakan pemanfaatan sumber energi alternatif lain dengan perencanaan pemanfaatan teknologi nuklir. Akan tetapi upaya ini belum juga terealisasi dengan baik, karena pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri mengenai pemanfaatan energi nuklir,serta masih mengkaji hingga lingkup efek positif dan negatif tidak lagi menjadi perdebatan yang akan merugikan bagi pemerintah. Di kalangan masyarakat sendiri masih muncul tanggapan pro dan kontra terhadap kebijakan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Hal tersebut muncul dikarenakan masih minimnya pendidikan mengenai teknologi nuklir dikalangan masyarakat. Bagi sebagian masyarakat awam, kata nuklir erat kaitannya dengan kehancuran, kerusakan, dan sesuatu yang mematikan. Hal tersebut yang menyebabkan ketakutan, sehingga beberapa orang, kelompok, bahkan negara memilih untuk tidak memanfaatkan energi nuklir.

Padahal, jika ditilik lebih lanjut, pemanfaatan energi nuklir yang tepat akan lebih menguntungkan dan lebih efisien. Selain jumlah ketersediaan bahan bakar nuklir yang melimpah, dan biaya bahan bakar yang rendah, kelebihan dari aplikasi penggunaan PLTN adalah tidak terbentuknya emisi gas rumah kaca, karena tidak menggunakan peralatan proteksi lingkungan seperti DeSOx dan DeNOx. Dengan penggunaan PLTN, message.polusi udara oleh gas-gas berbahaya seperti karbon monoksida, aerosol, mercury, sulfur dioksida, nitrogen oksida, partikulate, atau asap fotokimia dapat dikurangi.

Pertimbangan tersebut menyebabkan semakin diperlukannya energi nuklir, akan tetapi masyarakat Indonesia sendiri pada umumnya masih terprovokasi oleh isu-isu mengenai bahaya nuklir terutama atas limbah nuklir. Berbagai sosialisasi mengenai pembangunan PLTN dan tenaga nuklir sudah mulai dilaksanakan, akan tetapi belum dapat menjawab kegelisahan masyarakat mengenai langkah untuk mengatasi limbah nuklir tersebut. Banyak program sosialisasi yang hanya membahas mengenai bahaya nuklir tanpa mau memberikan informasi dampak positif dari penggunaan tenaga nuklir tersebut.

Masyarakat juga masih berfikir bahwa energi alternatif seperti biofuel, gelombang laut, sinar matahari dan gas bumi mampu mengatasi krisis listrik tanpa harus mengeluarkan dampak limbah berbahaya sepperti limbah nuklir. Namun, pada dasarnya semua energi alternatif tersebut tidak dapat memberikan dampak signifikan terhadap permasalahan krisis energi. Jika memang ingin membebaskan bangsa ini dari krisis energi yang harus dilakukan terlebih dahulu ialah menumbuhkan kepercayaan masyarakat mengenai kebermanfaatan tenaga nuklir dengan mengadakan sosialisasi tenaga nuklir secara tepat dan berimbang. Marilah kita hentikan global warming dan krisis energi dengan mendukung teknologi nuklir.

Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

Saat ini, pemerintah melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkoninfo) melakukan sosialisasi di Jateng mengenai rencana pembangunan proyek PLTN di Jepara. Rencananya, PLTN yang dipersiapan beroperasi pada 2015 akan menambah catu daya sekitar 5.000 hingga 7.500 megawatt (MW). Proyek PLTN terpadu dengan perkirakan 5-6 reaktor, 1 reaktor berkapasitas 600-1.000 MW. Rencana pembangunan PLTN di Indonesia kurang saya setujui, karena faktor :

Keamanan. Indonesia adalah Negara kepulauan dan berada pada wilayah Lingkaran Api atau tempat pusat bertemunya beberapa lempeng bumi, hal ini menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami dan dapat terjadi pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan kanker thyroid. Ketergantungan Terhadap Negara Lain. Di Indonesia memang terdapat tambang Uranium di Kalimantan, namun Uranium tersebut masih harus mengalami proses pengolahan yang lama dan membutuhkan biaya banyak. Jika mau mudah, hanya bisa membeli di negara lain. Artinya ketergantungan selama 40 tahun (masa hidup reaktor). Biaya yang Mahal. Indonesia masih sangat kekurangan pengalaman tenaga kerja dan butuh banyak peralatan yang harus di impor dari negara luar, hal itu akan menyebabkan banyak memakan biaya yang sangat besar. Belum lagi jika terjadi kerusakan besar dan memakan waktu perbaikan yang lama, Tenaga Ahli-nya pun harus yang sudah berpegalaman, dan Tenaga Ahli yang sudah berpengalaman tersebut tidak terdapat di Indonesia, maka harus melakukan pengeluaran besar untuk memanggil Tenaga Ahli dari luar negeri tersebut.

Saran saya terhadap pembangunan PLTN di Indonesia adalah, sebaiknya di lakukan pelatihan oleh Tenaga Ahli luar hingga dapat melaksanakannya sendiri terlebih dahulu, mulai dari cara mengolah bahan baku, pembangunan, pendaur-ulangan limbah yang
mungkin dihasilkan, sampai kerusakan yang dapat terjadi. Sehingga kedepannya, Indonesia tidak perlu membutuhkan biaya untuk membeli bahan baku (karena sudah dapat mengolah dengan baik), dan Tenaga Ahli untuk perbaikan. Karena ledakan reaktor nuklir dapat menyebar hingga radius 15-25 KM. Sebaiknya pembangunan di lakukan di daerah terpencil, dan dekat dengan sumber bahan baku. Sebab meskipun terjadi kecelakaan, tidak menyebabkan efek yang terlalu besar bagi kehidupan disana.

Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

Di Indonesia gagasan untuk pembangunan PLTN sebenarnya telah ada semenjak tahun 1956, namun pada tahun 1972 ide tersebut baru muncul bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan di adakannya seminar yang menghasilkan bahwa PLTN harus di kembangkan di Indonesia dan pada saat itu juga di usulkan 14 tempat untuk pembangunan PLTN yang salah satunya di Semenanjung Muria. Namun yang sangat di sayangkan, sampai pada saat ini pembangunan PLTN belum juga dapat terlaksana di karenakan banyaknya alasan-alasan.

Mengapa Indonesia sepertinya sangat ketakutan untuk membangun sebuah rektor nuklir? Apakah dikarenakan dampaknya pada global warming? Padahal PLTN tidak menyebabkan polusi udara yang begitu parah, limbah dari PLTN hanya berupa H2O, CO2, dan limbah-limbah lain yang akan kembali pada kolam penampungan agar dampak dari radiasi dapat di abaikan. Apakah karena takut dengan dampak negatif nuklir? Seharusnya kita tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut secara berlebihan karena reaktor nuklir telah dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, selain itu pembangunan PLTN dari tahap perencanaan rencangan bangunan sampai dengan tahap dekomisioning akan di awasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Internasional dan Badan Pengawas Dalam Negeri, jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hal tersebut secara berlebihan.

Kalau menurut saya sebaiknya pembangunan PLTN dilaksanakan di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, agar masyarakat menjadi lebih tenang namun walaupun begitu harus di adakan penyuluhan terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya warga sekitar tempat pembangunan PLTN tentang PLTN tersebut, tujuannya agar masyarakat dapat lebih tenang lagi, nyaman dan dapat mempercayai pemerintah. Jika perencanaan sudah matang sebaiknya cepat dilaksanakan pembangunan PLTN karena batubara yang selama ini kita pakai sudah tinggal sedikit persediaannya, selain itu masyarakat Indonesia juga sangat membutuhkan PLTN agar mencapai taraf hidup yang lebih baik.

NUKLIR PENYELAMAT PERADABAN

Tahun-tahun terakhir, isu akan adanya pembangunan PLTN di Indonesia membangunkan minat warga akan tenaga nuklir. Sebelumnya, bidang nuklir tidak terlalu terekspos keberadaannya. Masalahnya, setelah nuklir menjadi terekspos, yang menjadi dominan di masyarakat adalah pandangan negatif terhadap energi alternatif ini.

Nuklir adalah salah satu sumber energi alternatif yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika dipertimbangkan melalui logika, pemerintah saat ini terlihat enggan menyetujui eksplorasi lebih lanjut akan tenaga nuklir dan pemanfaatannya. Pemerintah lebih fokus untuk meningkatkan layanan tanpa memperhatikan ketersediaan sumber daya. Akibatnya, tarif listrik pun terus meningkat. Padahal dari sekian banyak sumber energi, telah diteliti bahwa nuklir akan mampu menyumbang listrik sebesar 10% dari jumlah permintaan listrik di Indonesia.

Kesadaran akan lingkungan juga membawa nuklir pada topik berwawasan lingkungan atau tidak. Jawabannya adalah ya, nuklir adalah energi yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka pelestarian lingkungan, nuklir turut berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan global warming. Emisi CO2 nuklir ke udara jauh lebih sedikit dari pada sumber energi lain. Untuk ketersediaan Uranium, sebagai bahan baku reaktor nuklir, lebih besar dibandingkan dengan sumber energi lain. Yaitu, umur tenaga nuklir dapat mencapai 3600 tahun, sedangkan bahan bakar minyak akan habis 42 tahun lagi. Tanpa listrik, dunia akan menjadi kegelapan semata bukan? Inilah saatnya nuklir menjadi penyelamat peradaban.

Untuk Indonesia, diperlukan komitmen yang besar untuk membangun PLTN. Keselamatan dan kepengurusan limbah nuklir harus menjadi yang utama dalam pengadaan PLTN. Masih diperlukan sumber daya manusia yang secara kualitas dinyatakan lulus untuk mengurusi bidang ini. Sayangnya, ketertinggalan dalam bidang IPTEK terpampang jelas dalam aksi-aksi penolakan nuklir. Fakta tersebut sebaiknya dijadikan tantangan bagi bangsa Indonesia sendiri untuk mengambil tindakan yang secara ekonomis menguntungkan, yaitu penggunaan energi nuklir. Mungkin masih diperlukan waktu dalam menciptakan persetujuan mayarakat akan tenaga nuklir ini. Tetapi jika tidak dilakukan sekarang, kapan lagi?

Oleh Bernardia Vitri Arumsari

Balada PLTN di Indonesia

PLTN merupakan ide yang diangkat pada tahun 1956, melaui pernyataan pada seminar-seminar pada masa itu. Artinya rencana PLTN di Indonesia sudah berumur kurang lebih 54 tahun. Meski sudah lama bekerja sama dalam perencanaan, perancangan, dan sebagainya. PLTN di Indonesia masih belum juga dibangun dengan sebab dan alasan yang
beraneka ragam. Dari sekian banyak tempat yang pernah diusulkan untuk membangun sbuah poyek PLTN, akhirnya hanya Semenjung Muria-lah yang terpilih. Meski sampai sekarang PLTN masih menuai banyak kecaman berupa penolakan, terutama warga desa sekitar tempat yang direncanakan akan dibangun PLTN tersebut, Desa Balong.

Sampai saat ini, yang masih membuat bingung adalah, mengapa harus Semenanjung
Muria? Bahkan ada kabar daerah Banten juga akan dibangun PLTN.Mungkin saja penolakan-penolakan yang terjadi selama ini karena ada dua f-brothers (ciptaan penulis).Mereka adalah Green Community dan WWF dan yang ingin penulis tekankan, mengapa mereka ikut menolak? Bukankah di negara mereka juga dibangun PLTN? Memang, Indonesia seringkali disebut-sebut sebagai paru-paru dunia karena hutannya yang luas nan lebat.Tapi Indonesia juga tidak kalah sering mendapat kecaman, dampak isu global warming. Mengapa? Bukankan limbah PLTN hanya berupa air, CO2, dan limbah lain yang harus dkembalikan?

Untuk itu, hendaknya Indonesia harus berani melawan.Harus ada orang Indonesia yang membuktikan bahwa tidak benar tingkat “penghasilan” gas CO2 di Indonesia sangat tinggi. Selain itu, pemerintah juga perlu mendesak instansi-instansi terkait untuk mencari tempat baru yang kira-kira lebih mungkin untuk dibangun PLTN. Bukankah Indonesia memiliki beribu-ribu pulau? Hendaknya kita membangun PLTN di pulau terpencil agar tidak ada yang protes. Jikalau masih ada, karena alasan pencemaran laut, kita minta saja badan internasional yang menangani masalah nuklir untuk ikut mengawasi. PLTN sangat dibutuhkan di Indonesia, bagaikan tubuh yang kekurangan darah, Indonesia tidak akan mampu berkembang secara optimal jikalau masih ada permasalahan energi, khusunya listrik.