Menengok Jawa Timur Di Masa Lalu

Presiden Soekarno pernah berkata bahwa, 'Jangan Sekali - Sekali Melupakan Sejarah'. Pernyataan Sang Presiden ini yang sangat mengesankan dapat menginspirasi para penerus bangsa ini untuk terus berjuang. Pernyataan yang sering disingkat dengan 'Jas Merah' ini akan terus terngiang dalam pikiran, kenapa? karena tanpa adanya masa lalu, tidak mungkin akan ada masa sekarang, mungkin itulah yang dapat diartikan.
Barangkali Indonesia tidak akan lahir tanpa adanya faktor sejarah, dan mungkin juga propinsi yang berdiri di Indonesia tercinta ini tidak akan ada tanpa adanya faktor sejarah.

Dan Salah satunya Propinsi Jawa Timur, Jawa Timur yang merupakan salah satu propinsi terbesar di Indonesia, dimana presiden Soekarno dilahirkan dan dimakamkan di propinsi ini juga memiliki faktor sejarah.
Berikut ini saya mau menampilkan beberapa gambar atau photo dari daerah Jawa Timur pada masa pendudukan Pemerintah Hindia Belanda.

Bondowoso - Aloon aloon ~1910
Bondowoso punya alun-alun yang lumayan gede dipusat kota. Paling senang ke sana pada malem minggu, karena memang pasti orang-orang pada berkumpul di sana. Ada yang jualan mainan anak-anak sampai jualan makanan kaki lima di sepanjang jalan alun-alun itu. Tapi pada hari biasa dari senin sampai jumat, kota Bondowoso bisa dibilang sepi sekali. Paling enak jalan pagi, paling enak mutar-mutar di seputaran alun-alun karena aktifitas pagi sampai siang juga tidak terlalu padat. Beda sama Surabaya apalagi Jakarta. Beda banget!
Bondowoso... setiap orang yang tahu nama kota ini selalu mengatakan "Kota Tape", dan memang Bondowoso paling banyak memproduksi Tape Singkong.

Banjoewangi - Wartel 1909
Kartupos ini memperlihatkan warung telepon di Banyuwangi. Pada awal abad ke-20 telepon masih merupakan puncak dari modernitas. Pada tahun 1882 pemerintah Hindia Belanda sudah mendirikan telepon di kota Batavia. Kemudian, disusul telepon interlokal tahun 1896 yang menghubungkan kota lain. Pemerintah mendirikan warung telepon di kota-kota di seluruh pulau Jawa. Wartel yang tersebut adalah gedung bagus dengan arsitektur modern. Letaknya di pusat kota. Cukup menarik untuk merekam dengan pesawat foto. Orang Banyuwangi di jalan memandang kepada fotografer kaya mereka belum pernah lihat kamera.
Banjoewangi- Messigit ~1910

Djember - kotta 1900an
Pusat kota Jember adalah sesuatu jalan yang menghubungkan Alun-alun dengan pasar. Pada jaman dulu, jalan ini disebut “Passerweg” (Jalan Pasar) atau “Jalan Raya”. Disini ada macam-macam toko. Kartupos ini memperlihatkan panorama dari Alun-alun mengarah ke barat. Pejalan kaki melintasi jalan ini di bawah naungan rindang pohon yang di pinggiran. Sejak dulu kota Jember berreputasi sebagai salah satu kota paling bersih di pulau Jawa.

Sekarang Jalan Pasar bernama Jalan Raya Sultan Agung. Foto diambil dari jembatan penyeberangan.

Kota Jember, terkenal sebagai Kota Tembakau karena terdapat perkebunan tembakau besar yang menjadi sentral perkebunan beberapa pabrik rokok terbesar Indonesia, terletak 250 kilometer sebelah Tenggara kota Surabaya di jalur utama Surabaya-Jember-Banyuwangi. Jember mulai tumbuh sebagai kota pada 1850-an ketika George Birnie, seorang keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa. George Birnie menikah dengan Rabina, perempuan Jawa.
Djember Kotta 1900an
Jember pada dasarnya tidak mempunyai penduduk asli. Hampir semuanya pendatang, mengingat daerah ini tergolong daerah yang mengalami perkembangan sangat pesatkhususnya di bidang perdagangan, sehingga memberikan peluang bagi pendatang untuk berlomba-lomba mencari penghidupan di daerah ini. Mayoritas penduduk yang mendiami Kabupaten Jember adalah suku Jawa dan Madura, disamping masih dijumpai suku-suku lain serta warga keturunan asing sehingga melahirkan karakter khas Jember dinamis, kreatif, sopan dan ramah tamah. Bahasa Jawa dialek Jember agak beda dengan Jogjakarta atau Solo. Orang Jember memakai kata “koen” atau “kowe” untuk panggilan orang kedua.
Oleh-oleh khas Jember adalah tape (singkong yang diragikan) atau suwar-suwir (manisan dari tape, rasanya empuk-empuk manis).

Djember - Salon toekang ramboet 1909
“Salon de coiffure” (bahasa Perancis) berarti “ruang potong rambut“. Sekarang bahasa Indonesia berkata “Salon“ saja. Salon ini bernama “Limoen“. Nama ini sedikit aneh. Mungkin tamu menerima sop-drink limun. (Atau mungkin pemilik adalah seorang tionghoa yang bernama Lim Oen?)

Di depan salon ada papan iklan “Haarknippeer Limoen“. Haarknipper (bhs Belanda) berarti tukang potong rambut. Didepan salon dua ekor ayam dan seorang berpakaian bagus dengan tas hitam berdiri. Depan pintunya sebuah jembatan bambu menyeberang parit. Salon didirikan di rumah sederhana sekali. Atap salon berbahan sirap kayu. Rumah tetangga kiri lebih maju. Atapnya ada genteng modern. Didepan rumah tetangga seorang sedang mencuci baju.

Djember - Huis ten bosch 1906


Djombang - Hotel Paviljoen 1920an

Kedirie Aloon-aloon 1900an-2007

Kartu pos ini saya mendapatkan di sesuatu tempat sampah. Kartunya dibuang oleh seorang pengumpul perangko setelah perangkonya diambil. Dia tidak suka kartu ini. Jarang sekali kartu kuno dari kota Kediri dapat kita temui.

Di bayangan pohon beringin 7 orang mau buka warung makan. Ada kursi dan meja sederhana yang berbahan kayu. Di bawah mejanya seekor anjing sedang memandang fotografer. Di tengah alun-alun seekor kambing makan rumput. Di meja berada piala-piala dan piring-piring bersih dan banyak makanan bungkus dan satu sisir pisang juga, dan buah-buahan lain. Di sisi kanan ibu dan ayah memangku anak. Mereka sedang masak. Tiga pemuda merokok di sisi kiri. Sampai sekarang kota Kediri adalah kota industri rokok. Semuanya memakai kemeja dan sarung. Gedung di latar belakang mungkin adalah mesjid. Langit barat berwarna merah. Berarti matahari mau benam. Sebentar lagi jam makan mau mulai. Warung ini akan ramai. Sesudah kenyang, tamu akan kasih sisa makanan kepada anjing yang di bawah meja. Dia sudah menunggunya dengan penuh selerah.

Alun-alun Kediri 2007



Kediri - Jembatan Lama 1910an-2008

Di kota Kediri sungai Brantas yang merupakan sungai yang terlebar se-Jawa sudah lebar sekali. Struktur kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Sekarang Kediri ada 3 jembatan di seberang Brantas. Jembatan ini adalah jembatan yang tertua jadi dipanggil Jembatan Lama. Jembatan ini menjadi saksi perjuangan rakyat Kediri saat Jepang invasi ke Kediri pada 5 Maret 1945 dan pada tahun revolusi 1945-49 jembatan ini menjadi tempat pertempuran lagi.

Menurut cerita rakyat seekor buaya putih tinggal di sungai Brantas di bawah jembatan ini.
Jembatan Lama 2008


Kediri - Perempatan Nggoemoel 1910an
Kartupos ini memperlihatkan mobil di Perempatan Nggumul di Kediri. Di perempatan ini kita melihat warung dan pos kamling. Jalan lurus dari posisi fotografer menuju ke kota Kediri, jalan kanan ke Pare dan ke Malang. Sekarang semua bangunan dari kartupos ini sudah hilang. “Weg naar Paree" berarti "Jalan ke Pare".


Foto dari Google Earth. Tanda 1 mengunjukkan posisi fotografer 1910-an di perempatan lama. Perempatan ini sedang dipindahkan. Tanda 2 mengunjukkan tempat Tugu Gumul di perlimaan baru. Perempatan tersebut sekarang menjadi perlimaan, namanya Simpang Lima Gumul. Dekat sekali dari sini monumen Gumul sedang dibangun. Monumen ini bentuk dan ukurannya sama dengan Arc de Triomphe di Perancis. Proyek ini merupakan realisasi dari mimpi Bupati Sutrisno. Rencananya memang lahir setelah bapak bupati berkunjung ke kota Paris. Melihat Arc de Triomphe yang dibangun Kaisar Napoleon, sang bupati mulai membangun mimpi-mimpinya untuk memajukan Kediri. Dan, mimpi itu memang akhirnya benar-benar diwujudkannya. Kediri menjadi “Parijs van Java” ke-2 (Sejak dulu kota Bandung sudah disebut “Parijs van Java”). Mimpinya butuh dana Rp 220 miliar.


Bangunan Tugu Gumul dirancang tim arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Proyek mau selesai tahun 2009.
“Arc de Sutrisno” 2007.

Kediri - Station 1900an-2008

Stasiun kereta api di Kediri adalah salah satu stasiun paling tua di Indonesia. Stasiun ini dibangun pada tahun 1882 dalam gaya arsitektur neoklasik yang simetris dan indah. Tahun itu 1882 jalur rel kereta api yang menghubungkan Kediri dan Surabaya dibuka juga. Kiri dan kanan dari pintu masuk kita melihat dua lampu minyak. Sebentar lagi kereta api mau datang. Depan pintu masuk banyak kereta kuda sudah sedang menunggu penumpang. Sekarang stasiun ini masih berfungsi tapi pohon cemara di depan sudah hilang.


Kediri - Station2008

Lawang - Pasar 1910an

Nongko Djadjar - Pasar 1920's

Desa Nongkojajar adalah salah satu daerah pusat perkebunan tanaman keras seperti kopi, cengkeh, durian alpukat, mangga, jeruk, tebu. semangka, melon dan apel. Tidak sedikit diantaranya terdapat tanaman palawija seperti kentang, kol, kobis, selada dan berbagai tanaman pokok ubi2an seperti ketela dan singkong. Di pasar ini semua hasil perkebunan dijual oleh petani langsung kepada konsumen.

Pasoeroean - Pelaboehan 1910an
Dulu Pasuruan berkembang sebagai kota pesisir, memiliki pelabuhan nelayan, dan pusat pelelangan ikan laut. Letak geografisnya yang strategis menjadikan Pasuruan sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara. Karena kondisi geografisnya, pelabuhan ini memiliki kedalaman kolam sekitar 1,5 m. Ini tidak cukup untuk kapal laut. Sekarang akses ke sana tertutup lumpur lapindo.

Toko Tikauchi adalah konglomerat pertokoan jepang yang punya cabang di banyak kota pada tahun 1910-1920an. Toko Tikauchi adalah penerbit kartupos ini. Mungkin Nanyo adalah nama fotografer atau franchiser cabangnya yang di Pasuruan.


Pasoeroean Heerenstraat 1920an
Pasuruan menempatkan pusat pemerintahan Pribumi dan kolonial ditempat yang terpisah. Pusat pemerintahan Pribumi ada di pusat kota (alun-alun) sedang pusat pemerintahan Kolonial di didaerah orang Eropa di Heerenstraat (kini Jl Jayengrono).

Sarangan 1930an

Sitoebondo - Aloon aloon 1910an

Songgoriti - Goenoeng Panderman 1920an

Hotel Songoriti 1925

Kartupos berwarna ini memperlihatkan betapa kawasan Songgoriti masa itu masih asri. Tidak ada villa-villa seperti sekarang. Di latar depan masih ada kebun. Kartupos berjudul lengkap “Badhotel Songoriti Poststation Batoe bij Malang”. “Poststation” adalah pos ganti kuda yang didirikan di sepanjang Jalan Pos. Selain Jalan Raya Pos (Groote Postweg yang ternama) dahulu juga terdapat Jalan Pos yang kecil. Di “Batoe bij Malang” (= Batu dekat Malang) ternyata terdapat Jalan Pos dengan sebuah Pos juga. Kartupos dikirim dari Wlingi ke Perancis dengan prangko Nederlandsch-IndiĆ« 2 cent dan 3 cent yang ditempel di sisi gambar. Diberi cap Wlingi 4.11.25 (4 nopember 1925).

Hotel Songoriti, atau lebih lengkap disebut Badhotel Songoriti, didirikan pada tahun 1911 di tempat pemandian air panas yang sudah ada disini sejak selamanya di desa Songokerto, 3 km di sebelah barat dari Batu, Jawa Timur. Tambahan “Bad” berarti hotel punya pemandian. Sejak dahulu pemandian ini dibuat untuk mencuci pusaka dan airnya dapat menebuhkan berbagai penyakit. Diatas mata airnya terdapat Candi Songgoriti yang dibangun pada abad ke-9. Pada awal 1900an daerah ini dijadikan obyek parawisata. Departemen Pariwisata dari Batavia mempromosikannya Songgoriti dengan nama samaran “Swiss Kecil dari Jawa” Letaknya 975 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi gunung Arjuno, Welirang dan Panderman. Cuacanya sesegar Eropa. Waktu itu hotel ada fasilitas pemandian, tenis dan biliar. Sekarang gedung lama sudah hilang dan diganti resort dengan apartemen yang baru. Alamatnya Jl. Raya Songgoriti 51 Batu - Malang 65312
Songgoriti Resort 2008
Songgoriti - Badhotel 1916
Songgoriti Tjandi 1924

Songgoriti - Lebaksari 1920an
Foto ini memperlihatkan warung di tepi jalan dan mobil yang berjalan dari Songoriti ke arah Lebaksari lewat jalan raya yang penuh dengan tikungan tajam di sekitar daerah Songgoriti. Jalan ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Gunung tinggi yang terlihat paling kiri adalah Gunung Panderman. Sekarang jalan ini sudah diaspal dan ramai sekali dengan lalu-lintas.

Lebaksari adalah salah satu kampung di desa Ngroto, kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalan raya dari Malang ke Kediri melewati Lebaksari sekitar 5 km lewat Pujon.
Songgoriti - Lebaksari 2007an

Songgoriti - Lebak Sari 1910an
Kartupos ini memperlihatkan jalan raya dari Songorriti menuju ke Pujon. “Afgepaalde weg naar de badplaats Lebak Sari bij Malang” berarti “Jalan dibatasi dengan tonggak2 ke tempat pemandian Lebak Sari dekat Malang” Sekarang jalan ini sudah diaspal dan dilebarkan.

Lebaksari adalah salah satu kampung di desa Ngroto, kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalan raya dari Malang ke Kediri melewati Lebaksari sekitar 5 km lewat Pujon. Januari 2007 lalu terjadi longsor jalan ini dan sampai sekarang masih belum aman dari bahaya longsor.

Songgoriti - Lebaksari 2007an

Songgoriti - Poedjon 1910an
Kartupos ini memperlihatkan jembatan yeng menyeberang air terjun. Foto dibuat mengarah ke Songoriti. “Afgepaalde weg naar de badplaats Lebak Sari bij Malang” berarti “Jalan dibatasi dengan tonggak2 ke tempat pemandian Lebak Sari dekat Malang” Sekarang jalan ini sudah diaspal dan dilebarkan. Suasanya masih sama tapi lalu lintas lebih modern. Kereta kuda diganti mobil, bis dan truk.
Songgoriti - Poedjon 2007an

Songgoriti - Poedjon 1910an
Kartupos ini memperlihatkan sebuah kereta kuda di jembatan yeng menyeberang air terjun. Foto dibuat mengarah ke Songoriti. Suasanya masih sama tapi lalu lintas lebih modern. Kereta kuda diganti mobil, bis dan truk.
2007

Songoriti - Gunung Arjuno 1920an
Kartupos ini memperlihatkan pemandangan dari jalan raya Songoriti-Pujon mengarah ke desa Songoriti yang terletak di lembah. Gunung tinggi di latar belakang adalah Gunung Arjuno. Sekarang Songoriti bukan desa kecil seperti dulu lagi. Songoriti adalah tempat wisata yang sudah penuh dengan hotel dan vila-vila.
Songoriti - Gunung Arjuno 2007an

Songgoriti - Poedjon 1920an
Foto ini memperlihatkan jalan ke Pujon dari Songoriti. Sekarang jalan ini sudah diaspal dan dilebarkan. Jalan ini melewati sebuah air terjun yang indah. Air dari air terjun melanjutkan perjalanannya sebagai sungai kecil yang berada diseberang jembatan kecil. Januari 2007 lalu terjadi longsor jalan ini dan sampai sekarang masih belum aman dari bahaya longsor.



















Tjampoerdarat - Goenoeng Boedeg ±1910
Dari jalan raya antara Trenggalek dan Tulungagung (provinsi Jawa Timur) sebuah bukit aneh terlihat. Nama bukit itu Gunung budeg. Gunung itu terletak di pinggiran selatan kota Tulungagung, di kacamatan Campurdarat. Dahulu Campurdarat terkenal dengan daerah rawa-rawa, yang lebih dikenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Campurdarat sekarang terkenal sebagai salah satu penghasil marmer terbesar di pulau Jawa. Campurdarat juga termasuk salah satu pusat industri dan perajin marmer.

Gunung ini sebenarnya kurang tepat jika dikategorikan sebagai gunung karena dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut terlalu kecil. Sebenarnya inilah sebuah bukit. Akses menuju gunung ini sangat mudah dijangkau, kurang lebih berjarak 8 km sebelah selatan kota Tulungagung di kecamatan Campurdarat. Untuk menuju kesana bisa menggunakan kendaraan umum jurusan tulungagung-popoh, turun di pasar boyolangu atau bisa di perempatan desa Tanggung (ada sekolah dasar SD Tanggung di perempatan tsb.

Di atas bukit terdapat sebuah candi, Candi Tritis namanya. Orang daerahnya suka mencari pesugihan di candinya. Tahun pembangunan candi ini sampai sekarang tidak diketahui. Mungkin sekali berasal dari jaman Majapahit.





Candi Tritis











Ada cerita bahwa pohon “bonzai” pernah ditanam orang Jepang di bukit-bukit ini dan pohon itu masih dicari oleh orang setempat. Sepertinya kini bonzai tersebut sudah tidak ada lagi. Di kaki bukit jalur juga bisa ditemui gua dengan relief di dindingnya. Sekarang goa ini tidak dapat dimasuki lagi karena pintunya ditutup dengan batu-batu dan tanah longsor. Dahulu, di puncak gunung terdiri sebuah tugu batu (35 x 35 cm, tingginya 50 cm) yang berasal dari jaman Majapahit, berukuran cerita dalam bahasa sansekerta. Tugu ini digunakan sebagai wadah penyimpan abu jenazah yang diperabuhkan. Beberapa tahun yang lalu tugu yang sangat bernilai seni dan bernilai sejarah ini dicuri. Mungkin sekali dijual di pasar gelap.
Rekonstruksi Tugu Budeg. Kini berlokasi dimana?

Menurut cerita penduduk setempat kejadian Gunung Budeg mirip dengan Gunung Tangkuban Perahu yang ada di Jawa Barat. Gunung Budeg (Budeg = Tuli) dinamai seperti itu karena ada batu besar di puncak sebelah barat yang menyerupai manusia duduk. Menurut cerita yang saya peroleh sebenarnya batu itu dulunya adalah seorang pemuda yang gagah perkasa. Dia mencintai seseorang wanita yang cantik. Tapi cintanya di tolak sama wanita tersebut. Untuk itu dia semedi dan memohon kepada Tuhan untuk bisa mendapatkan wanita itu. Pada waktu semedi yang makan waktu lama dia dipanggil-panggil oleh ibunya. Karena lama dia tidak jawab-jawab panggilan ibunya, ibunya jadi kesal. Kemudian mengutuk dia... jadilah dia gunung! Seketika itu sang anak berubah menjadi patung batu dan gunung tempat anak tersebut melakukan semedi kemudian dinamakan gunung budeg.
Patung batu Budeg.

Toempang Wendit, Malang 1912

Tosari - Kampoeng 1900an

Tosari Goa 1900an

Tretes ±1900

Kartupos yang dikirim pada tanggal cantik mengambarkan suasana pedesaan seperti dulu di Tretes. Tretes adalah desa (kini kota) yang menarik untuk dikunjungi. Terletak di lereng Gunung Welirang dan Gunung Arjuno di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, hawa daerah ini sangatlah sejuk dan dikelilingi dengan panorama alam yang memikat. Kawasan ini telah dikenal wisatawan sejak jaman Belanda.

Kini tretes sudah menjadi salah satu primadona wisata Jawa Timur yang ramai dikunjungi wisatawan. Bisa disebut “Las Vegas dari Jawa”. Dengan perbedaannya bahwa tempat judi seperti di Vegas di Tretes adalah tempat prostitusi. Ada banyak fasilitas wisata yang lain juga seperti pusat hiburan dan belanja, hotel berbintang, villa, restoran, lapangan tenis, kebun anggrek, suaka margasatwa Taman Safari. Tretes terletak hanya 55 km ke arah selatan dari Surabaya. Biasanya menjadi tujuan plesir orang-orang berduit dari Kota Surabaya dan sekitarnya.

Kartupos diterbitkan H. van Ingen dari Soerabaja ini berdasarkan foto dibuat oleh fotografer ternama Ohannes Kurkdjian. Beliau lahir di Armenia pada tahun 1851 dan pindah ke Jawa pada tahun 1885. Di Surabaya dia mendirikan studio “Foto Atelier Kurkdjian”. Fotonya biasanya bertema topografi dan antropologi. Dia meninggal di Surabaya pada tahun 1903.

Trenggalek - Peradjin keramik 1910an
Sejak jaman dahulu kala kerajinan keramik merupakan industri rumah tangga. Keramik adalah sejenis barangan yang diperbuat daripada tanah liat yang telah diproses, dibentuk dan dibakar bagi mengekalkan rupa bentuk tembikar tersebut. Keramik yang sudah dibakar memiliki kekuatan yang lebih dan tahan air. Biasanya pekerjaan pembuatan keramik secara turun-temurun. Mereka memakai alat kusus yaitu papan bulat yang dapat diputar untuk membuat barang keramik.

Roemah Sakit Kediri 1900an
Kartupos ini berjudul dalam bahasa Belanda « Het gebouw der ziekenverpleging te Kediri » artinya « Gedung untuk merawat orang sakit di Kediri»

Batoe Villa Bouman 1930an

Tidak diketahui siapa arsitek dari villa cantik yang bergaya arsitektur “Streamline Moderne” di kota Batu (Jatim) ini. Tetapi saya tidak heran kalau gedung dirancangkan oleh arsitek Albert Frederik Aalbers (1897-1961) dari Bandung. "Streamline Moderne" merupakan aliran dalam gaya utama Art Deco yang bau Modernisme juga. Tanda pengenal adalah tata letak ekspresif dan dekoratif dan garis-garis horisontal dan vertikal dalam arsitektur yang mengikuti bentuk garis arus yang dipakai untuk kereta api, kapal uap, mobil, dan kendaraan lain yang "cepat" pada tahun 1930an.

Pemilik dari villa ini adalah seorang pedagang mobil namanya Bouman. Pada waktu foto ini dibuat, villa baru dibangun dan taman belum selesai. Di halaman sudah terdapat kolam renang dan lapangan tenis. Pada periode Agresi Militer Belanda ke-1 (juli 1947) villa ini dibakar dan dihancurkan oleh TNI dalam rangka politik "bumi hangus".
Villa Bouman di Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur (pembesaran)

Hindoe Tempel Toempang ±1910-2009

• Tahun: ±1910
• Judul: Hindoe Tempel, Toempang-Malang (= Candi Hindu, Tumpang-Malang)
• Penerbit: Tidak diketahui

Kartupos memperlihatkan 27 orang yang berpose untuk fotografer di atas Candi Jago di kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Antara mereka adalah 3 pengendara sepeda yang berseragam militer. Mereka mengambil posisi paling tinggi di foto ini dan 3 sepedanya ditempatkan di teras di lantai 1, 2 dan 3. Didepan pintu atas kita dapat melihat seorang bule yang berposisi tidur. Dia memakai topi gaya eropa yang sedikit mirip topi dari 3 pengendara sepeda tersebut. Tetapi dia tidak menjadi bagian dari kumpulan mereka. Mungkin si londo ini adalah teman dari fotografer saja. Orang yang berpose di lantai 1 di belakang sepeda tidak mungkin bisa naik sepeda sendiri dengan memakai sarung. Semua orang di lantai 1 memakai ikat kepala kecuali yang berdiri di sebelah kiri. Dia memakai topi gaya eropa yang terlalu besar untuk kepalannya.

Candi Jago di Tumpang 2009

Arca Raksasa Kala, Tjandi Toempang ±1910-2009

• Tahun: ±1910
• Judul: Poortversiering Tjandi Toempang (= Hiasan gapura, Candi Tumpang)
• Penerbit: Ibu C. Boccage, Malang
• Fotografer: Neville Keasberry (1866-1944)

Kartupos memperlihatkan arca muka raksasa (kala) yang dulu mungkin menghiasi pintu candi. Kala ini terdapat di halaman situs Candi Jago di desa Jago, kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Konon nama kecamatan Tumpang berasal dari bentuk candi tersebut. Candi ini dahulunya bernama Jayaghu. Didirikan pada masa kerajaan Singhasari sekitar tahun 1280 sebagai tempat pemakaman Raja Wisnuwardhana dan pernah diperbaiki oleh Adityawarman pada tahun 1343. Hayam Wuruk disebutkan pernah menziarahi candi ini.

Bangunan utama candi terletak agak kebelakang dan menduduki teras tinggi. Diduga pada bangunan utama itu diberi atap dari ijuk sebagaimana pura-pura di Bali. Situs candi Jago memiliki banyak relief cerita yang dipahatkan pada dindingnya. Di halaman terdapat beberapa sisa bangunan dan arca yang dahulu menghiasi candi Jago, termasuk kala ini. Beberapa arca lainnya disimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Kala dari Candi Jago, Tumpang 2009


sumber: djawatempodoeloe.multiply.com

0 comments

Post a Comment