IPv6

Sebelumnya sudah pernah saya posting artikel tentang perbedaan IPv4 dengan IPv6, namun untuk kali ini saya akan menyampaikan lebih mendalam tentang IPv6. Baik tentang keunggulannnya, transisi dari IPv4 ke IPv6 hingga routing protokol pada IPv6.

Abstrak
Perkembangan teknologi jaringan komputer dewasa ini semakin pesat seiring dengan kebutuhan masyarakat akan layanan yang memanfaatkan jaringan komputer. Pada sistem jaringan komputer, protokol merupakan suatu bagian yang paling penting. Protokol jaringan yang umum digunakan adalah IPv4, yang masih terdapat beberapa kekurangan dalam menangani jumlah komputer dalam suatu jaringan yang semakin kompleks. Telah dikembangkan protokol jaringan baru, yaitu IPv6 yang merupakan solusi dari masalah diatas. Protokol baru ini belum banyak diimplementasikan pada jaringan-jaringan di dunia.

IP versi 6 (IPv6) adalah protokol Internet versi baru yang didesain sebagai pengganti dari Internet protocol versi 4 (IPv4) yang didefinisikan dalam RFC 791. IPv6 yang memiliki kapasitas address raksasa (128 bit), mendukung penyusunan address secara terstruktur, yang memungkinkan Internet terus berkembang dan menyediakan kemampuan routing baru yang tidak terdapat pada IPv4. IPv6 memiliki tipe address anycast yang dapat digunakanuntuk pemilihan route secara efisien. Selain itu IPv6 juga dilengkapi oleh mekanisme penggunaan address secara local yang memungkinkan terwujudnya instalasi secara Plug&Play, serta menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet, seperti dukungan terhadap aliran datasecara real-time, pemilihan provider, mobilitas host, end-to-end security, ataupun konfigurasi otomatis.

Pendahuluan

IPv4 yang merupakan pondasi dari Internet telah hampir mendekati batas akhir dari kemampuannya, dan IPv6 yang merupakan protokol baru telah dirancang untuk dapat menggantikan fungsi IPv4. Motivasi utama untuk mengganti IPv4 adalah karena keterbatasan dari panjang addressnya yang hanya 32 bit saja serta tidak mampu mendukung kebutuhan akan komunikasi yang aman, routing yang fleksibel maupun pengaturan lalu lintas data.
Header IPv4
IP versi 6 (IPv6) adalah protokol Internet versi baru yang didesain sebagai pengganti dari Internet protocol versi 4 (IPv4) yang didefinisikan dalam RFC 791. IPv6 yang memiliki kapasitas address raksasa (128 bit), mendukung penyusunan address secara terstruktur, yang memungkinkan Internet terus berkembang dan menyediakan kemampuan routing baru yang tidak terdapat pada IPv4. IPv6 memiliki tipe address anycast yang dapat digunakanuntuk pemilihan route secara efisien. Selain itu IPv6 juga dilengkapi oleh mekanisme penggunaan address secara local yang memungkinkan terwujudnya instalasi secara Plug&Play, serta menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet, seperti dukungan terhadap aliran datasecara real-time, pemilihan provider, mobilitas host, end-to-end security, ataupun konfigurasi otomatis.

Keunggulan IPv6

Otomatisasi berbagai setting / Stateless-less auto-configuration (plug&play) Address pada IPv4 pada dasarnya statis terhadap host. Biasanya diberikan secara berurut pada host. Memang saat ini hal di atas bisa dilakukan secara otomatis dengan menggunakan DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol), tetapi hal tersebut pada IPv4 merupakan fungsi tambahan saja, sebaliknya pada IPv6 fungsi untuk mensetting secara otomatis disediakan secara standar dan merupakan defaultnya. Pada setting otomatis ini terdapat 2 cara tergantung dari penggunaan address, yaitu setting otomatis stateless dan statefull.

  • Setting Otomatis Statefull 
Cara pengelolaan secara ketat dalam hal range IP address yang diberikan pada host dengan menyediakan server untuk pengelolaan keadaan IP address, dimana cara ini hampir mirip dengan cara DHCP pada IPv4. Pada saat melakukan setting secara otomatis, informasi yang dibutuhkan antara router, server dan host adalah ICMP (Internet Control Message Protocol) yang telah diperluas. Pada ICMP dalam IPv6 ini, termasuk pula IGMP (Internet Group management Protocol) yang dipakai pada multicast pada IPv4.
setting otomatis statefull
  • Setting Otomatis Stateless
Pada cara ini tidak perlu menyediakan server untuk pengelolaan dan pembagian IP address, hanya mensetting router saja dimana host yang telah tersambung di jaringan dari router yang ada pada jaringan tersebut memperoleh prefix dari address dari jaringan tersebut. Kemudian host menambah pattern bit yang diperoleh dari informasi yang unik terhadap host, lalu membuat IP address sepanjang 128 bit dan menjadikannya sebagai IP address dari host tersebut. Pada informasi unik bagi host ini, digunakan antara lain address MAC dari jaringan interface. Pada setting otomatis stateless ini dibalik kemudahan pengelolaan, pada Ethernet atau FDDI karena perlu memberikan paling sedikit 48 bit (sebesar address MAC) terhadap satu jaringan, memiliki kelemahan yaitu efisiensi penggunaan address yang buruk.

Perubahan Dari IPV4 ke IPV6

Perubahan dari IPv4 ke IPv6 pada dasarnya terjadi karena beberapa hal yang dikelompokkan dalam kategori berikut :
  • Kapasitas Perluasan Alamat
IPv6 meningkatkan ukuran dan jumlah alamat yang mampu didukung oleh IPv4 dari 32 bit menjadi 128bit. Peningkatan kapasitas alamat ini digunakan untuk mendukung peningkatan hirarki atau kelompok pengalamatan, peningkatan jumlah atau kapasitas alamat yang dapat dialokasikan dan diberikan pada node dan mempermudah konfigurasi alamat pada node sehingga dapat dilakukan secara otomatis. Peningkatan skalabilitas juga dilakukan pada routing multicast dengan meningkatkan cakupan dan jumlah pada alamat multicast. IPv6 ini selain meningkatkan jumlah kapasitas alamat yang dapat dialokasikan pada node juga mengenalkan jenis atau tipe alamat baru, yaitu alamat anycast. Tipe alamat anycast ini didefinisikan dan digunakan untuk mengirimkan paket ke salah satu dari kumpulan node.
  • Penyederhanaan Format Header
Beberapa kolom pada header IPv4 telah dihilangkan atau dapat dibuat sebagai header pilihan. Hal ini digunakan untuk mengurangi biaya pemrosesan hal-hal yang umum pada penanganan paket IPv6 dan membatasi biaya bandwidth pada header IPv6. Dengan demikian, pemerosesan header pada paket IPv6 dapat dilakukan secara efisien.
  • Option dan Extension Header
Perubahan yang terjadi pada header-header IP yaitu dengan adanya pengkodean header Options (pilihan) pada IP dimasukkan agar lebih efisien dalam penerusan paket (packet forwarding), agar tidak terlalu ketat dalam pembatasan panjang header pilihan yang terdapat dalam paket IPv6 dan sangat fleksibel/dimungkinkan untuk mengenalkan header pilihan baru pada masa akan datang.
  • Kemampuan Pelabelan Aliran Paket
Kemampuan atau fitur baru ditambahkan pada IPv6 ini adalah memungkinkan pelabelan paket atau pengklasifikasikan paket yang meminta penanganan khusus, seperti kualitas mutu layanan tertentu (QoS) atau real-time.
  • Autentifikasi dan Kemampuan Privasi
Kemampuan tambahan untuk mendukung autentifikasi, integritas data dan data penting juga dispesifikasikan dalam alamat IPv6.
Perubahan terbesar pada IPv6 adalah perluasan IP address dari 32 bit pada IPv4 menjadi 128 bit.128 bit ini adalah ruang address yang kontinyu dengan menghilangkan konsep kelas. Selain itu juga dilakukan perubahan pada cara penulisan IP address. Jika pada IPv4 32 bit dibagi menjadi masing-masing 8 bit yang dipisah kan dengan "." dan dituliskan dengan angka desimal, maka pada IPv6, 128 bit tersebut dipisahkan menjadi masing-masing 16 bit yang tiap bagian dipisahkan dengan ":"dan dituliskan dengan hexadesimal. Selain itu diperkenalkan pula struktur bertingkat agar pengelolaan routing menjadi mudah. Pada CIDR (Classless Interdomain Routing) table routing diperkecil dengan menggabungkan jadi satu informasi routing dari sebuah organisasi.


Untuk memahami tentang struktur bertingkat address pada IPv6 ini, dengan melihat contoh pada address untuk provider. Pertama-tama address sepanjang 128 bit dibagi menjadi beberapa field yang dapat berubah panjang. Jika 3 bit pertama dari address adalah "010", maka ini adalah ruang bagi provider. Sedangkan n bit berikutnya adalah registry ID yaitu field yang menunjukkan tempat/lembaga yang memberikan IP address. Misalnya IP address yang diberikan oleh InterNIC maka field tersebut menjadi "11000". Selanjutnya m bit berikutnya adalah provider ID, sedangkan o bit berikutnya adalah Subscriber ID untuk membedakan organisasi yang terdaftar pada provider tersebut.

Kemudian p bit berikutnya adalah Subnet ID, yang menandai kumpulan host yang tersambung secara topologi dalam jaringan dari organisasi tersebut. Dan yang q=125-(n+m+o+p) bit terakhir adalah Interface ID, yaitu IP address yang menandai host yang
terdapat dalam grup-grup yang telah ditandai oleh Subnet ID.

Subnet ID dan Interface ID ini bebas diberikan oleh organisasi tersebut. Organisasi bebas menggunakan sisa p+q bit dari IP address dalam memberikan IP address di dalam organisasinya setelah mendapat 128-(p+q) bit awal dari IP address. Pada saat itu, administrator dari organisasi tersebut dapat membagi menjadi bagian sub-jaringan dan host dalam panjang bit yang sesuai, jika diperlukan dapat pula dibuat lebih terstruktur lagi. Karena panjang bit pada provider ID dan subscriber ID bisa berubah, maka address yang diberikan pada provider dan jumlah IP address yang dapat diberikan oleh provider kepada pengguna dapat diberikan secara bebas sesuai dengan kebutuhan. Pada IPv6 bagian kontrol routing pada address field disebut prefix, yang dapat dianggap setara dengan jaringan address pada IPv4.

Address IPV6
  • Unicast Address (one-to-one)
Digunakan untuk komunikasi satu lawan satu, dengan menunjuk satu host. Pada Unicast address ini terdiri dari :
  1. Global, address yang digunakan misalnya untuk address provider atau address
    geografis.
  2. Link Local Address adalah address yang dipakai di dalam satu link saja. Yang dimaksud link di sini adalah jaringan lokal yang saling tersambung pada satu level. Address ini dibuat secara otomatis oleh host yang belum mendapat address global, terdiri dari 10+n bit prefix yang dimulai dengan "FE80" dan field sepanjang 118-n bit yang menunjukkan nomor host. Link Local Address digunakan pada pemberian IP address secara otomatis.
  3. Site-local, address yang setara dengan private address, yang dipakai terbatas di dalam site saja. Address ini dapat diberikan bebas, asal unik di dalam site tersebut, namun tidak bisa mengirimkan packet dengan tujuan alamat ini di luar dari site tersebut.
  4. Compatible
struktur unicast address
pengiriman paket pada unicast address
  • Multicast (One-to-Many)
Yang digunakan untuk komunikasi 1 lawan banyak dengan menunjuk host dari group. Multicast Address ini pada IPv4 didefinisikan sebagai kelas D, sedangkan pada IPv6 ruang yang 8 bit pertamanya di mulai dengan "FF" disediakan untuk multicast Address. Ruang ini kemudian dibagi-bagi lagi untuk menentukan range berlakunya. Kemudian Blockcast address pada IPv4 yang address bagian hostnya didefinisikan sebagai "1", pada IPv6 sudah termasuk di dalam multicast Address ini. Blockcast address untuk komunikasi dalam segmen yang sama yang dipisahkan oleh gateway, sama halnya dengan multicast address dipilah berdasarkan range tujuan.
pengiriman paket pada multicast
  • Anycast Address
Yang menunjuk host dari group, tetapi packet yang dikirim hanya pada satu host saja. Pada address jenis ini, sebuah address diberikan pada beberapa host, untuk mendifinisikan kumpulan node. Jika ada packet yang dikirim ke address ini, maka router akan mengirim packet tersebut ke host terdekat yang memiliki Anycast address sama. Dengan kata lain pemilik packet menyerahkan pada router tujuan yang paling "cocok"bagi pengiriman packet tersebut. Pemakaian Anycast Address ini misalnya terhadap beberapa server yang memberikan layanan seperti DNS (Domain Name Server). Dengan memberikan Anycast Address yang sama pada server-server tersebut, jika ada packet yang dikirim oleh client ke address ini, maka router akan memilih server yang terdekat dan mengirimkan packet tersebut ke server tersebut. Sehingga, beban terhadap server dapat terdistribusi secara merata.Bagi Anycast Address ini tidak disediakan ruang khusus. Jika terhadap beberapa host diberikan sebuah address yang sama, maka address tersebut dianggap sebagai Anycast Address.

Struktur Paket Pada IPv6

Dalam pendesignan header pakket ini, diupayakan agar cost/nilai pemrosesan header menjadi kecil untuk mendukung komunikasi data yang lebih real time. Misalnya, address awal dan akhir menjadi dibutuhkan pada setiap packet. Sedangkan pada header IPv4 ketika packet dipecah-pecah, ada field untuk menyimpan urutan antar packet. Namun field tersebut tidak terpakai ketika packet tidak dipecah-pecah. Header pada Ipv6 terdiri dari dua jenis, yang pertama, yaitu field yang dibutuhkan oleh setiap packet disebut header dasar, sedangkan yang kedua yaitu field yang tidak selalu diperlukan pada packet disebut header ekstensi, dan header ini didifinisikan terpisah dari header dasar. Header dasar selalu ada pada setiap packet, sedangkan header tambahan hanya jika diperlukan diselipkan antara header dasar dengan data. Header tambahan, saat ini didefinisikan selain bagi penggunaan ketika packet dipecah, juga didefinisikan bagi fungsi sekuriti dan lain-lain. Header tambahan ini, diletakkan setelah header dasar, jika dibutuhkan beberapa header maka header ini akan disambungkan berantai dimulai dari header dasar dan berakhir pada data. Router hanya perlu memproses header yang terkecil yang diperlukan saja, sehingga waktu pemrosesan menjadi lebih cepat. Hasil dari perbaikan ini, meskipun ukuran header dasar membesar dari 20 bytes menjadi 40 bytes namun jumlah field berkurang dari 12 menjadi 8 buah saja.
Struktur Header Dasar Pada IPv6
Label Alir dan Real Time Process

Header dari packet pada IPv6 memiliki field label alir (flow-label) yang digunakan untuk meminta agar packet tersebut diberi perlakuan tertentu oleh router saat dalam pengiriman (pemberian ‘flag’). Misalnya pada aplikasi multimedia sedapat mungkin ditransfer secepatnya walaupun kualitasnya sedikit berkurang, sedangkan e-mail ataupun WWW lebih memerlukan sampai dengan akurat dari pada sifat real time.
Tabel Label Alir Pada IPv6
Router mengelola skala prioritas maupun resource seperti kapasitas komunikasi atau kemampuan memproses, dengan berdasar pada label alir ini. Jika pada IPv4 seluruh packet diperlakukan sama, maka p ada IPv6 ini dengan perlakuan yang berbeda terhadap tiap packet, tergantung dari isi packet tersebut, dapat diwujudkan komunikasi yang aplikatif.

IPv6 Transition (IPv4-IPv6)

Untuk mengatasi kendala perbedaan antara IPv4 dan IPv6 serta menjamin terselenggaranya komunikasi antara pengguna IPv4 dan pengguna IPv6, maka dibuat suatu metode Hosts – dual stack serta Networks – Tunneling pada hardware jaringan, misalnya router dan server.
Network - Tunneling
Jadi setiap router menerima suatu packet, maka router akan memilah packet tersebut untuk menentukan protokol yang digunakan, kemudian router tersebut akan meneruskan ke layer diatasnya.

Representasi Alamat pada IPv6

Model x:x:x:x:x:x:x:x dimana ‘x‘ berupa nilai hexadesimal dari 16 bit porsi alamat, karena ada 8 buah ‘x‘ maka jumlah totalnya ada 16 * 8 = 128 bit. Contohnya adalah :

FEDC:BA98:7654:3210:FEDC:BA98:7654:3210

Jika format pengalamatan IPv6 mengandung kumpulan group 16 bit alamat, yaitu ‘x‘, yang bernilai 0 maka dapat direpresentasikan sebagai ‘::’. Contohnya adalah :

FEDC:0:0:0:0:0:7654:3210

dapat direpresentasikan sebagai

FEDC::7654:3210                         0:0:0:0:0:0:0:1
dapat direpresentasikan sebagai

::1

Model x:x:x:x:x:x:d.d.d.d dimana ‘d.d.d.d’ adalah alamat IPv4 semacam 167.205.25.6 yang digunakan untuk automatic tunnelling. Contohnya adalah :
0:0:0:0:0:0:167.205.25.6 atau ::167.205.25.6
0:0:0:0:0:ffff:167.205.25.7
atau :ffff:167.205.25.7
Jadi jika sekarang anda mengakses alamat di internet misalnya 167.205.25.6 pada saatnya nanti format tersebut akan digantikan menjadi semacam ::ba67:080:18. Sebagaimana IPv4, IPv6 menggunakan bit mask untuk keperluan subnetting yang direpresentasikan sama seperti representasi prefix-length pada teknik CIDR yang digunakan pada IPv4, misalnya :

3ffe:10:0:0:0:fe56:0:0/60

menunjukkan bahwa 60 bit awal merupakan bagian network bit. Jika pada IPv4 anda  mengenal pembagian kelas IP menjadi kelas A, B, dan C maka pada IPv6 pun dilakukan pembagian kelas berdasarkan fomat prefix (FP) yaitu format bit awal alamat. Misalnya :

3ffe:10:0:0:0:fe56:0:0/60

maka jika diperhatikan 4 bit awal yaitu hexa ‘3’ didapatkan format prefixnya untuk 4 bit awal adalah 0011 (yaitu nilai ‘3’ hexa dalam biner).

Kelas Ipv6

Ada beberapa kelas IPv6 yang penting yaitu :
  1. Aggregatable Global Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6
    dengan bit awal 001.
  2. Link-Local Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit awal 1111 1110 10.
  3. Site-Local Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit awal 1111 1110 11.
  4. Multicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit awal 1111 1111.
Pada protokol IPv4 dikenal alamat-alamat khusus semacam 127.0.0.1 yang mengacu ke localhost, alamat ini direpresentasikan sebagai 0:0:0:0:0:0:0:1 atau ::1 dalam protokol IPv6. Selain itu pada IPv6 dikenal alamat khusus lain yaitu 0:0:0:0:0:0:0:0 yang dikenal sebagai unspecified address yang tidak boleh diberikan sebagai pengenal pada suatu interface. Secara garis besar format unicast address adalah sebagai berikut :
Interface ID digunakan sebagai pengenal unik masing-masing host dalam satu subnet. Dalam  penggunaannya umumnya interface ID berjumlah 64 bits dengan format IEEE EUI-64. Jika digunakan media ethernet yang memiliki 48 bit MAC address maka pembentukan interface ID dalam format IEEE EUI-64 adalah sebagai berikut :
Misalkan MAC address-nya adalah 00:40:F4:C0:97:57
  1. Tambahkan 2 byte yaitu 0xFFFE di bagian tengah alamat tersebut sehingga
    menjadi 00:40:F4:FF:FE:C0:97:57
  2. Komplemenkan (ganti bit 1 ke 0 dan sebaliknya) bit kedua dari belakang pada byte
    awal alamat yang terbentuk, sehingga yang dikomplemenkan adalah ‘00’ (dalam
    hexadesimal) atau ‘00000000’ (dalam biner) menjadi ‘00000010’ atau ‘02’ dalam
    hexadesimal.
  3. Didapatkan interface ID dalam format IEEE EUI-64 adalah 0240:F4FF:FEC0:9757
Perbandingan IPv4 dengan IPv6

Network-Tunneling

 Protokol Routing Pada Ipv6

Protokol routing yang digunakan pad a IPv6 adalah BGP4+ untuk external routing dan OSPFv6, RIPng untuk internal routing.
  • BGP4+
Border Gateway Protokol adalah routing protokol yang memakai system autonomous. Fungsi utama dari BGP adalah untuk saling tukar-menukar informasi konektivitas jaringan antar BGP sistem. Informasi konektifitas ini antara lain adalah daftar dari Autonomous System (ASs). Informasi ini digunakan untuk membuat daftar routing sehingga terjadi suatu koneksi.

BGP4 mampu melakukan suatu advertaisement dan IP-prefix serta menghilangkan keterbatasan tentang network class. BGP memakai pola Hop-by-Hop yang artinya hanya meggunakan jalur yang berikutnya yang terdaftar dalam Autonomous System.

BGP menggunakan TCP sebagai media transport. BGP menggunakan port 179 untuk koneksi BGP. BGP mendukung CIDR.

Model BGP
BGP mampu mempelajari jalur internet malalui internal atau eksternal BGP dan dapat memilih jalur terbaik dan memasukkannya dalam ip forwarding. BGP dapat digunakan pada dual maupun multi-homed, dengan syarat memiliki nilai AS. BGP tidak dapat digunakan pada single-homed.

Type dari BGP:
  1. OPEN, tipe pesan yang diterima sewaktu koneksi antar BGP tersambungkan.
  2. UPDATE, tipe pesan yang dikirimkan untuk mengirimkan informasi routing antar BGP.
  3. KEEPALIVE, tipe pesan yang dikirimkan untuk mengetahui apakah pasangan BGP masih hidup
  4. NOTIFICATION, tipe pesan yang dikirimkan apabila terjadi error.
  • Attribut BGP
AS_path, adalah jalur yang dilalui dan dicatat dalam data BGP route, dan dapat mendeteksi loop. Next_Hop, adalah jalur berikutnya yang akan dilalui dalam routing BGP, biasanya adalah local network dalam eBGP. Selain itu bisa didapat dari iBGP. Local Preference, penanda untuk AS BGP local Multi-Exit Discriminator (MED), bersifat non-transitif digunakan apabila memiliki eBGP yang lebih dari 1. Community, adalah sekumpulan BGP yang berada dalam satu AS. Perbandingan BGP-4 antara yang digunakan untuk IPv4 dan IPv6 adalah kemampuan dari BGP yang dapat mengenali scope dari IPv6, yaitu global, site-local, link-local. Apabila IPv6 masih menggunakan IPv4 sebagai transport maka alamat peer pada BGP yang lainnya harus diikutkan pada konfigurasi.
  • RIPng
Routing Information Protocol Next Generation adalah protokol routing yang berdasarkan protokol routing RIP di IPv4 yang sudah mendukung IPv6. RIPng ini digunakan untuk internal routing protokol dan menggunakan protokol UDP sebagai transport. RIPng ini menggunakan port 521 sebagai komunikasi antar RIPng.

Metode yang dipakai RIPng adalah distance vector (vektor jarak), yaitu:
  1. Jarak local network dihitung 0
  2. Kemudian mencari neighbour sekitar dan dihitung jaraknya dan cost
  3. Dibandingkan jarak dan cost antar neighbour
  4. Dilakukan perhitungan secara kontinue
  5. Menggunakan algoritma Ballman-Ford
Format RIP Header
Command pada RIPng Header berisi:
  1. Request, meminta daftar tabel routing pada RIPng yang lain
  2. Response, membalas request dari RIPng yang lain dan memberikan daftar routing
Protokol RIPng ini memiliki beberapa kelemahan
  1. Hanya bisa sampai 15 HOP
  2. Lambat dalam memproses routing, dikarena melakukan pengecekan terus menerus
  3. Bersifat Classful
Perbedaan yang terjadi antara RIP pada IPv4 (RIPv2) dan IPv6 (RIPng) adalah port UDP dimana pada IPv4 menggunakan port 520 sedangkan IPv6 menggunakan port 521 sebagai media transpor. RIPng hanya memiliki 2 perintah yaitu response dan request, berbeda dengan RIPv2 yang memiliki banyak perintah dan banyak yang tidak terpakai dan ada yang dibuang pada RIPng seperti authentifikasi. Perubahan yang terjadi dari RIPv2 ke RIPng antara lain, ukuran routing yang tidak lagi dibatasi, subnet IPv4 digantikan dengan prefix IPv6, next-hop dihilangkan tetapi kegunaannya tidak dihilangkan, authentifikasi dihilangkan, namun kemampuan yang hanya sampai 15 hop masih sama.
  • OSPFv3
Open Shortest Path First adalah routing protokol yang digunakan pada IPv6. OSPF ini berdasarkan atas Link-state dan bukan berdasarkan atas jarak. Setiap node dari OSPF mengumpulkan data state dan mengumpulkan pada Link State Packet.

LSP dibroadcast pada setiap node untuk mencapai keseluruhan network. Setelah seluruh network memiliki “map” hasil dari informasi LSP dan dijadikan dasar link-state dari OSPF. Kemudian setiap OSPF akan melakukan pencarian dengan metode SPF (Shortest Path First) untuk menemukan jarak yang lebih efisien.

Routing table yang dihasilkan berdasarkan atas informasi LSP yang didapat sehingga OSPF memberikan informasi LSP secara flood, karena OSPF sudah memiliki kemampuan untuk memilih informasi LSP yang sama maka flood ini tidak mengakibat exhousted.

OSPF ini menggunakan protokol TCP bukan UDP, mendukung VLSM (Variable Length Subnet Mask).

OSPF menggunakan algoritma Shortest Path First (SPF) oleh Dijkstra, yaitu:
  1. Diasumsikan sudah ada data table sebelumnya. Data yang diperlukan antara lain PATH (ID, path cost, arah forwarding ) TENTATIVE (ID, path cost, arah forwarding), Forwarding database.
  2. Taruh local sebagai root dari tree dengna ID,0,0 pada PATH.
  3. Temukan link N dan taruh di PATH. Hitung jarak Root-N dan N-M, apabila M belum terdapat di PATH atau TENTATIVE, apabila nilainya lebih baik taruh di TENTATIVE.
  4. Apabila TENTATIVE bernilai kosong , batalkan. Lainnya, masukkan nilai TENTATIVE ke PATH.
Format OSPF Header
Keterangan OSPF:
Version, 8 bit, diisi dengan dengan versi dari OSPF.
Type, 8 bit, diisi dengan Type code dari OSPF yaitu:
  1. Hello, untuk mengetahui adanya pasangan OSPF
  2. Database Description, mengirimkan deskripsi dari OSPF
  3. Link State Request, meminta data dari pasangan OSPF
  4. Link State Update, mengupdate data table pada OSPF
  5. Link State Aknowledgment, mengirimkan pesan error
Length, 16 bit, panjang header dan data dari OSPF
Router ID, 32 bit, Router ID dari source paket
Area ID, 32 bit, Area dari paket ini.
Checksum, 16 bit
AuType, 16 bit, model autentifikasi dari OSPF
Authentication, 64 bit, misal tanpa autenticasi, simple password, cryptographic
password.

Keterangan untuk OSPFv3:
Version, 8 bit, diset 3
Checksum, 16 bit, CRC
Instance ID, 8 bit
Reserves, 8 bit diset 0
  • Perbandingan antara Link State dengan Distance Vektor
  1. Konversi lebih cepat daripada Distance Vektor
  2. Mudah dalam bentuk Topologi Jaringan
  3. Mudah dalam hal Routing
  4. Bisa memiliki routing tabel yang kompleks
  • Perbedaan Antara OSPF Ipv4 dengan OSPF IPv6
  1. Komunikasi menggunakan link-state tidak menggunakan subnet.
  2. Menghilangkan alamat semantic.
  3. Menggunakan scope IPv6 yaitu: link-local scope, area-scope, AS scope.
  4. Mendukung multi OSPF pada link yang sama.
  5. Menggunakan alamat link-local.
  6. Menghilangkan authentifikasi.
  7. Perubahan format paket.
Contoh Infrastruktur IPv6

Infrastruktur IPv6
Infrastruktur IPv6
Kesimpulan

IPv4 yang merupakan pondasi dari Internet telah hampir mendekati batas akhir dari kemampuannya, dan IPv6 yang merupakan protokol baru telah dirancang untuk dapat menggantikan fungsi IPv4. Motivasi utama untuk mengganti IPv4 adalah karena keterbatasan dari panjang addressnya yang hanya 32 bit saja serta tidak mampu mendukung kebutuhan akan komunikasi yang aman, routing yang fleksibel maupun pengaturan lalu lintas data. Keunggulan IPv6 dibandingkan dengan IPv4 diantaranya yaitu setting otomatis stateless dan statefull. Kemudian, dasar migrasi / perubahan dari Ipv4 ke Ipv6 diantaranya kapasitas perluasan alamat, penyederhanaan format header, option dan extension header, kemampuan pelabelan aliran paket serta autentifikasi dan kemampuan privasi. Untuk mengatasi kendala
perbedaan antara IPv4 dan IPv6 serta menjamin terselenggaranya komunikasi antara pengguna IPv4 dan pengguna IPv6, maka dibuat suatu metode Hosts – dual stack serta Networks – Tunneling pada hardware jaringan, misalnya router dan server.

PT KAI siap buka kembali jalur Madiun-Ponorogo

Madiun (ANTARA News) - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional VII Madiun, Jatim, siap membuka kembali lintas cabangnya yang melayani jalur Madiun-Ponorogo guna mengatasi kepadatan lalu lintas dari arah Madiun ke Ponorogo dan sebaliknya.

Manajer Hubungan Masyarakat PT KAI Daop VII Madiun Sugianto di Madiun, Jumat, mengatakan, jalur Madiun-Ponorogo tersebut memiliki panjang 58 kilometer spoor dan telah ditutup sejak 1983. Jalur tersebut pada masa lalu terbentang antara Stasiun Madiun hingga Stasiun Slahung, Ponorogo.

"Pembukaan lintas cabang ini akan menjadi solusi saat kepadatan lalu lintas dari dan ke Madiun serta sebaliknya, meninggi. Pengurangannya bisa mencapai 50 persen. Ini sebuah tawaran dari PT KAI saat kami rapat koordinasi dengan pejabat Pemkot dan Pemkab Madiun beberapa waktu lalu," ujar Sugianto.

Ia mengatakan, memang saat ini belum dilakukan tahapan pembukaan sama sekali. Namun ia memastikan jika PT KAI siap untuk mengaktifkan jalur tersebut. Jalurnya adalah dari Stasiun Besar Madiun menuju Stasiun Sleko, Pagottan, Mlilir, Ponorogo hingga Slahung.

"Jika nantinya jalur Madiun-Ponorogo bisa diaktifkan lagi, maka akan mirip dengan jalur Solo-Wonogiri Jawa Tengah. Jalur tersebut saat ini juga dibuka kembali," kata dia.

Ia menjelaskan, jika jalur itu disetujui untuk dibuka kembali, otomatis sejumlah stasiun yang sudah mati harus dihidupkan lagi. Rel yang sudah tertutup bangunan, juga harus diperbaiki dengan berbagai pembongkaran.

Ia mengatakan, untuk pembongkaran jelas akan membutuhkan biaya yang amat besar. Namun, hal itu menjadi kewajiban pemerintah daerah demi kelancaran lalu lintas di daerah setempat.

"Untuk mewujudkannya harus membahasnya terlebih dahulu dengan tiga pemda yang dilewati jalur, yaitu Pemkot Madiun, Pemkab Madiun, dan Pemkab Ponorogo," katanya.

Terkait banyaknya bangunan semi permanen maupun permanen di atas tanah PT KAI yang sebagian besar tepat di atas rel, Sugianto menyatakan, semua pemilik bangunan itu hanya penyewa saja.

Kepada para penyewa, PT KAI memiliki kontrak yang salah satu klausulnya menyatakan penyewa wajib menyerahkan tanah yang disewa tanpa ganti rugi.

Dia mengatakan, pembukaan kembali jalur kereta api lintas Madiun-Ponorogo akan dilakukan secara serius begitu pihak pemda memberi sinyal positif. Hal itu, katanya, mungkin akan menjadi agenda KAI setelah jalur ganda selesai pada 2014.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Madiun Soekardi ketika diminta menanggapi hal itu terkesan memilih belum berkomentar banyak. Ia mengatakan, persoalan itu masih harus dikaji oleh pihak berwenang lainnya yaitu Dinas Perhubungan dan Dinas Pekerjaan Umum.
(ANT-072/M029). sumber (21 September2012)


Semoga saja jalur ini dibuka kembali. :D

Apa Itu Spring Framework



Spring merupakan sebuah framework (kerangka kerja) yang digunakan untuk membangun sebuah aplikasi Enterprise. Spring termasuk framework yang lightweight (ringan) untuk mendukung secara penuh dalam pengembangan aplikasi Enterprise siap pakai.

Spring dapat digunakan untuk melakukan pengaturan deklarasi manajemen transaksi, remote access dengan menggunakan RMI atau layanan web lainnya, fasilitas mailing, dan beragam opsi untuk pengaturan data ke database. Spring juga memungkinkan kita menggunakan hanya modul-modul tertentu sehingga kita tidak usah menggunakan semua modul spring dalam aplikasi apabila tidak diperlukan.

Fitur-fitur dari Spring Framework :
  1. Transaction Management : Spring framework menyediakan sebuah layer abstrak yang generik untuk manajemen transaksi, sehingga memudahkan para developer dalam melakukan manajemen transaksi.
  2. JDBC Exception Handling : layer abstrak JDBC menawarkan exception yang bersifat hierarki sehingga memudahkan penanganan error.
  3. Integration with Hibernate, JDO, and iBatis : Spring menawarkan layanan integrasi terbaik dengan Hibernate, JDO dan iBatas.
  4. AOP Framework : Spring merupakan framework AOP Terbaik yang pernah ada.
  5. MVC Framework : Spring hadir dengan framework aplikasi web MVC, yang dibangun di atas inti Spring. Spring merupakan framework yang sangat fleksibel dalam pengaturan strategi interface, dan mengakomodasi beberapa teknologi view seperti JSP, Velocity, Tiles, iText, dan POI.
Arsitektur Spring :
  1. Spring AOP, Salah satu komponen utama Spring adalah AOP Framework, AOP framework digunakan untuk : a) Untuk menyediakan layanan Enterprise, terutama sebagai pengganti EJB. Layanan terpenting dalam layanan ini adalah untuk mendekralitf manajemen transaksi, yang telah disediakan dalam abstraksi spring transaction. b) Untuk memungkinkan pengguna dalam menerapkan AOP dalam penggunaan OOP.
  2. Spring ORM, Spring ORM berhubungan dengan akses database dan menyediakan lapisan layer terintegrasi dengan ORM yang populer termasuk JDO, Hibernate dan iBatis.
  3. Spring Web, Merupakan bagian dari modul pengembangan Web Spring termasuk Spring Web MVC.
  4. Spring DAO, DAO (Data Access Object) mendukung standarisasi akses data yang menggunakan teknologi seperti JDBC, Hibernate dan JDO.
  5. Spring Context, Paket ini didasari pada paket beans untuk menambah dukungan sumber pesan dan untuk pola desain Observer, dan kemampuan untuk mendapatkan sumber daya yang konsisten dengan menggunakan API.
  6. Spring Web MVC, Menyediakan implementasi MVC untuk aplikasi web.
  7. Spring Core, Paket Spring Core ini merupakan komponen paling penting dari Spring Framework.
    Komponen ini menyediakan fitur Dependency Injection. BeanFactory memisahkan dependensi seperti inisialisasi, pembentukan dan akses object dari logika program anda.
Diagram Berikut menggambarkan arsitektur dari Spring :


sumber

VPN Sebagai Remote Access Solution Di Windows Server 2008

Masih berhubungan dengan yang namanya Windows Server 2008, pada artikel kali ini saya akan menjelaskan tentang konfigurasi VPN (Virtual Private Network) sebagai remote access solution, tentunya di sistem operasi Windows Server 2008. Anda bisa sambil mempraktekkan tutorial yang ada di artikel ini.

Perlu saya ingatkan lagi, saya menjalankan sistem operasi Windows Server 2008 di lingkungan Virtual Machine yakni VMware workstation. Jika anda belum menginstall VMware silakan diinstal.
Baik, langsung saja saya jelaskan.

Terdapat suatu kasus dimana suatu perusahaan telekomunikasi sebut saja bernama Telco corp. ingin mengimplementasikan solusi remote access untuk karyawannya, sehingga mereka dapat terhubung ke jaringan perusahaan saat jauh dari kantor. Telco corp membutuhkan network policy yang mengamanatkan bahwa koneksi VPN akan dienkripsi untuk alasan keamanan.
Departemen IT Telco corp tidak ingin solusi remote access menyebabkan peningkatan dramatis terhadap panggilan yang ditujukan kepada help desk untuk konfigurasi mengenai objek koneksi VPN yang perlu dibuat pada klien komputer.

Untuk langkah awal adalah instalasi network policy dan access services (saya asumsikan anda sudah menjalankan Windows Server 2008 di VMware). Baiklah, kita buka Windows Server nya.
  • Login dengan username dan password anda (apabila pertama kali booting windows server)
  • Install Network Policy dan Access Services dengan cara pilih Server Manager kemudian pilih Add Roles
  • Pilih yang Network Policy dan Access Services
  • Konfigurasikan Windows Server 2008 sebagai VPN Server dengan static ip address (disini saya menggunakan ip 10.0.0.11 untuk windows server)
  • Jika sudah terinstall, pilih close untuk menutup jendela kerja
Instalasi Network Policy & Access Server
Langkah berikutnya adalah konfigurasi VPN server
  • Buka Routing and Remote Access dari Administrative Tools (Klik Start --> Administrative Tools)
  • Pada list pane sebelah kiri, klik kanan nama server dan pilih Configure and Enable Routing and Remote Access.
  • Klik next pada Routing and Remote Access Setup Wizard. Pilih yang custom configuration, klik next.
  • Kemudian cek pada bagian VPN Access, klik next dan finish.
Configure and Enable
Custom Configuration

Langkah selanjutnya adalah konfigurasi Network Policy
  • Buka Network Policy Server (Klik Start --> Admnistrative Tools --> Network Policy Server)
  • Pada list pane, pilih Policies dan klik kanan pada Network Policies dan pilih New.
  • Pada New Network Policy Wizard, Policy Name :  Secure VPN Connection, Type of Network Server : Remote Access Server (VPN-Dial up).
New Network Policy
Specify Network Policy
  • Pada jendela Specify Conditions, klik add. Nantinya akan muncul jendela select condition. Kemudian tambahkan kondisi-kondisi berikut :
    • Tunnel Type : L2TP dan PPTP 
    • Day & Time : Permitted Mon thru Fri 5 am to 11 pm (Waktu yang dapat diijinkan untuk koneksi VPN)
Tunnel Type
Date & Time
    • Authentication Methods : CHAP dan MS-CHAP v2
Authentication Methods


  •  Jika semua kondisi sudah terpenuhi, klik next
Conditions Finish
  •  Pada Specify Access Permission pilih yang Access Granted  klik next.
  •  Pada jendela Configure Authentication Methods, uncek MS-CHAP dan cek MS-CHAP-v2 serta CHAP. Klik next
Configure Authentication Methods
  • Pada Configure Constraints klik next. Configure Setting klik Next
  • Completing New Network Policy --> Finish
Complete
Untuk Konfigurasi Network Policy sudah selesai, selanjutnya konfigurasi Logging.
  • Buka Routing and Remote Access dari Administrative Tools (Start --> Administrative Tools)
  • Pada list pane sebelah kiri, klik kanan nama server dan pilih Properties.
Routing & Remote Access
  • Pada dialog box Properties, pilih tab Logging dan pilih Log all events. Apply dan OK.
Logging
Untuk konfigurasi di Windows Server sudah selesai, sekarang konfigurasi di Windows 7 (dalam hal ini sebagai klien)
  • Pada Windows 7 Klik Network and Sharing Center, klik Set up a new connection or network. Buat koneksi VPN seperti biasa.
Network and Sharing Center
  • Ketika masuk ke Type the Internet address, isikan internet address dengan alamat ip windows server 2008 (10.0.0.11) dan destination name Telco corporation.
Connect VPN
Langkah terakhir adalah, kita coba connect kan VPN nya
  • Isikan username dan password sama ketika login ke windows server (username dan password ketika booting windows server 2008)
  • Apabila sudah connect, maka sudah berhasil dan karyawan Telco Corp dapat terhubung ke jaringan perusahaan saat jauh dari kantor.
Success


Troubleshooting
  • Masalah yang sering muncul biasanya VPN di Windows 7 tidak bisa konek dengan Windows Server. Jika tidak bisa connect, pastikan ip di Vmware Network Adapter VMnet8 (Windows 7) satu subnet dengan ip di windows server 2008.



Itulah sedikit mengenai konfigurasi VPN sebagai solusi remote access di Windows Server 2008. Apabila ada kesalahan mohon maaf, namanya juga belajar. :D

Peringkat Perguruan Tinggi Versi Webometrics Edisi Juli 2012

Peringkat Webometrics edisi Juli 2012 baru saja dirilis Senin 30 Juli 2012. Webometric adalah suatu sistem yang memberikan penilaian terhadap seluruh universitas terbaik di dunia melalui website universitas tersebut. Webometric melakukan pemeringkatan terhadap lebih dari 20 ribu Perguruan Tinggi diseluruh dunia. Jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang masuk pemeringkatan edisi Juli 2012 berjumlah 361 PT atau meningkat dibandingkan edisi Januari sebanyak 352 PT.

Mulai Webometrics Juli 2012, parameter penilaian berubah. Ada empat komponen yang menjadi indikator utama dari penilaian Webometrics ini, yaitu: Presence (20%), Impact (50%), Openness (15%), dan Excellence (15%). Untuk parameter Excellence merupakan jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan yang terindeks di Scimago Institution Ranking (tahun 2003-2011) dan di Google Scholar (tahun 2007-2011). Presence adalah jumlah halaman website (html) dan halaman dinamik yang tertangkap oleh mesin pencari (Google), tidak termasuk rich files. Impact merupakan jumlah eksternal link yang unik (jumlah backlink) yang diterima oleh domain web universitas (inlinks) yang tertangkap oleh mesin pencari (Google). Openness merupakan jumlah file dokumen (Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) and Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website universitas yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar).

Berikut daftar 10 besar peringkat perguruan tinggi Indonesia berdasarkan Webometrics:
  1. Universitas Gadjah Mada (World rank: 379; ASEAN: 9)
  2. University of Indonesia (507; 15)
  3. Institute of Technology Bandung (568; 18)
  4. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (582; 19)
  5. Indonesia University of Education (630; 22)
  6. Gunadarma University (740; 24)
  7. Bogor Agricultural University (764; 25)
  8. Brawijaya University (837; 29)
  9. Universitas Sebelas Maret (883; 30)
  10. Diponegoro University (948; 32)
Informasi selengkapnya dapat diakses melalui http://www.webometrics.info

sumber : dikti.go.id

Remote Access Dial-In User Service (RADIUS)

Selamat Pagi, Siang, Sore , Malem..... :D. Posting pertama di bulan Agustus, setelah dua bulan kgak ngeblog.hehe... Artikel yang akan saya share disini merupakan kelanjutan atau masih berhubungan dengan artikel yang sebelumnya yakni tentang PPTP dan L2TP, jika anda belum baca silakan dibaca biar nambah pengetahuannnya. :)

Pada artikel ini saya akan menshare tentang RADIUS, singkatan dari Remote Access Dial-In User Service. Terdiri dari pengenalan, karakteristik, cara kerja dan contoh implementasi. Mungkin secara singkatnya saja, namun jika anda masih belum mengerti dan paham silakan tanya mbah google saja.hehe...

Pengenalan

Remote Access (pada sebagian literatur Authentication) Dial-In User Service, yang sering disingkat menjadi RADIUS, adalah sebuah protokol keamanan komputer yang digunakan untuk melakukan autentikasi, otorisasi, dan pendaftaran akun pengguna secara terpusat untuk mengakses jaringan. RADIUS didefinisikan didalam RFC 2865 dan RFC 2866, yang pada awalnya digunakan untuk melakukan autentikasi terhadap akses jaringan jarak jauh (remote) dengan menggunakan koneksi dial-up.

RADIUS kini telah diimplementasikan untuk melakukan autentikasi terhadap akses jaringan secara jarak jauh dengan menggunakan koneksi selain dial-up, seperti halnya Virtual Private Networking (VPN), access point nirkabel, switch Ethernet, dan perangkat lainnya.

RADIUS mula-mula dikembangkan oleh perusahan Livingston. Pada awal pengembangannya, RADIUS menggunakan port 1645, yang ternyata bentrok dengan layanan “datametrics”. Sekarang, port yang dipakai RADIUS adalah port 1812. Berikut ini adalah RFC (Request For Comment) yang berhubungan dengan RADIUS:
  • RFC 2865 : Remote Authentication Dial-In User Service (RADIUS)
  • RFC 2866 : RADIUS Accounting
  • RFC 2867 : RADIUS Accounting for Tunneling
  • RFC 2868 : RADIUS Authentication for Tunneling
  • RFC 2869 : RADIUS Extensions
  • RFC 3162 : RADIUS over IP6
  • RFC 2548 : Microsoft Vendor-Specific RADIUS Attributes
Karakteristik

Beberapa karakteristik dari RADIUS adalah sebagai berikut:
  • Berbasis UDP Protocol
  • Bisa ditempatkan dimana saja di internet dan dapat membuat autentikasi (PPP, PAP, CHAP, MS-CHAP, EAP) antara Network Access Server (NAS) dan server itu sendiri
  • RADIUS menggunakan Remote Access Server (RAS) Secure ID untuk membuat autentikasi yang kuat dalam pengontrolan akses
Struktur paket data RADIUS bisa digambarkan sebagai berikut:

Paket Data RADIUS

Code, memiliki panjang satu oktet dan digunakan untuk membedakan tipe pesan RADIUS yang dikirimkan pada paket. Kode-kode tersebut (dalam desimal) antara lain:
1. Access-Request
2. Access-Accept
3. Access-Reject
4. Accounting-Request
5.Accounting-Response
11.Access-Challenge
12. Status-Server
13. Status-Client
255. Reserved


Identifier, Memiliki panjang satu oktet dan bertujuan untuk mencocokkan permintaan.

Length, Memiliki panjang dua oktet, memberikan informasi mengenai panjang paket.

Authenticator, Memiliki panjang 16 oktet, digunakan untuk membuktikan balasan dari RADIUS server, selain itu digunakan juga untuk algoritma password.

Attributes, Berisikan informasi yang dibawa pesan RADIUS. Setiap pesan dapat
membawa satu atau lebih atribut. Contoh atribut RADIUS: nama pengguna, password, CHAP-password, alamat IP access point (AP), pesan balasan.


Cara Kerja


RADIUS menggunakan konsep AAA (Authentication, Authorization, Accounting). Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Aliran Data Pada RADIUS
  • Access Reject
    User ditolak aksesnya ke semua sumberdaya dalam jaringan. Penyebabnya bisa termasuk kegagalah untuk menyediakan indentifikasi yang tepat atau nama akun yang salah/tidak aktif
  • Access Challenge
    Permintaan informasi tambahan dari user, seperti password alteernatif, PIN, token atau kartu.
  • Access Accept
    User diberikan akses masuk. Begitu User ter-autentifikasi, server RADIUS akan sering mengecek agar User hanya menggunakan sumberdaya sesuai dengan yang diminta. Misalnya User hanya boleh mengakses fasilitas hotspot, dan tidak untuk menggunakan printer. Informasi tentang User dalam database bisa disimpan secara lokal dalam server RADIUS atau disimpan dalam tempat penyimpanan eksternal seperti LDAP atau Active Directory
Proses Authentication
    Proses autentikasi diperlukan ketika Anda mempunyai kebutuhan untuk membatasi siapa saja yang diperbolehkan masuk ke dalam jaringan remote access milik Anda. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pengguna yang ingin mengakses sebuah jaringan secara remote harus diidentifikasi terlebih dahulu. Pengguna yang ingin masuk ke dalam jaringan pribadi tersebut perlu diketahui terlebih dahulu sebelum bebas mengakses jaringan tersebut. Pengenalan ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengguna tersebut berhak atau tidak untuk mengakses jaringan.
    Analoginya sederhananya adalah seperti rumah Anda. Apabila ada orang yang ingin berkunjung ke rumah Anda, kali pertama yang akan dilakukan oleh pemilik rumahnya adalah mengidentifikasi siapa yang ingin datang dan masuk ke dalamnya. Jika Anda tidak mengenal orang tersebut, bisa saja Anda tolak permintaannya untuk masuk ke rumah Anda. Namun jika sudah dikenal, maka Anda mungkin akan langsung mempersilakannya masuk. Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh perangkat remote access terhadap pengguna yang ingin bergabung ke dalam jaringan di belakangnya.
    Pada umumnya, perangkat remote access telah dilengkapi dengan sebuah daftar yang berisikan siapa-siapa saja yang berhak masuk ke jaringan di belakangnya. Metode yang paling umum digunakan untuk mengenali pengakses jaringan adalah dialog Login dan Password. Metode ini juga didukung oleh banyak komponen lainnya, seperti metode challenge dan response, messaging support, dan enkripsi, tergantung pada protokol sekuriti apa yang Anda gunakan.
Proses Authorization
    Proses authorization merupakan langkah selanjutnya setelah proses autentikasi berhasil. Ketika pengguna yang ingin mengakses jaringan Anda telah dikenali dan termasuk dalam daftar yang diperbolehkan membuka akses, langkah berikutnya Anda harus memberikan batasan hak-hak apa saja yang akan diterima oleh pengguna tersebut.
    Analogi dari proses ini dapat dimisalkan seperti peraturan-peraturan yang tertempel di dinding-dinding rumah Anda. Isi dari peraturan tersebut biasanya akan membatasi para pengunjung agar mereka tidak dapat dengan bebas berkeliling rumah Anda. Tentu ada bagian yang privasi di rumah Anda, bukan? Misalnya setiap pengunjung rumah Anda tidak diperbolehkan masuk ke ruang kerja Anda. Atau setiap pengunjung harus membuka alas kakinya ketika memasuki ruangan ibadah di rumah Anda. Atau setiap pengunjung hanya diperbolehkan masuk sampai teras rumah.
    Semua itu merupakan peraturan yang dapat dengan bebas Anda buat di rumah Anda. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada proses pengamanan jaringan remote access Anda. Perlu sekali adanya batasan untuk para pengguna jaringan remote karena Anda tidak akan pernah tahu siapa yang ingin masuk ke dalam jaringan Anda tersebut, meskipun telah teridentifikasi dengan benar. Bisa saja orang lain yang tidak berhak menggunakan username dan password yang bukan miliknya untuk mendapatkan akses ke jaringan Anda.
    Bagaimana untuk membatasi masing-masing pengguna tersebut? Banyak sekali metode untuk melakukan pembatasan ini, namun yang paling umum digunakan adalah dengan menggunakan seperangkat atribut khusus yang dirangkai-rangkai untuk menghasilkan policy tentang hak-hak apa saja yang dapat dilakukan si pengguna. Atribut-atribut ini kemudian dibandingkan dengan apa yang dicatat di dalam database.
    Setelah dibandingkan dengan informasi yang ada di database, hasilnya akan dikembalikan lagi kepada fasilitas AAA yang berjalan pada perangkat tersebut. Berdasarkan hasil ini, perangkat remote access akan memberikan apa yang menjadi hak dari si pengguna tersebut. Apa saja yang bisa dilakukannya dan apa saja yang dilarang sudah berlaku dalam tahap ini.
    Database yang berfungsi untuk menampung semua informasi ini dapat dibuat secara lokal di dalam perangkat remote access atau router maupun dalam perangkat khusus yang biasanya disebut dengan istilah server sekuriti. Di dalam server sekuriti ini biasanya tidak hanya informasi profil penggunanya saja yang ditampung, protokol sekuriti juga harus berjalan di sini untuk dapat melayani permintaan informasi profil dari perangkat-perangkat yang berperan sebagai kliennya. Pada perangkat inilah nantinya attribute-value (AV) dari pengguna yang ingin bergabung diterima dan diproses untuk kemudian dikembalikan lagi menjadi sebuah peraturan oleh fasilitas AAA tersebut.
    Metode authorization biasanya dilakukan dalam banyak cara. Bisa dilakukan dengan cara one-time authorization yang memberikan seluruh hak dari si pengguna hanya dengan satu kali proses authorization. Atau bisa juga dilakukan per service authorization yang membuat pengguna harus diotorisasi berkali-kali ketika ingin menggunakan layanan tertentu. Authorization juga bisa dibuat per pengguna berdasarkan daftar yang ada di server sekuriti, atau kalau protokolnya mendukung otorisasi bisa diberlakukan per group pengguna. Selain itu, jika keamanan server memungkinkan, Anda dapat memberlakukan aturan-aturan otorisasi berdasarkan sistem pengalamatan IP, IPX, dan banyak lagi
Proses Accounting
    Proses accounting dalam layanan koneksi remote access amat sangat penting, apalagi jika Anda membuat jaringan ini untuk kepentingan komersial. Dalam proses accounting ini, perangkat remote access atau server sekuriti akan mengumpulkan informasi seputar berapa lama si pengguna sudah terkoneksi, billing time (waktu start dan waktu stop) yang telah dilaluinya selama pemakaian, sampai berapa besar data yang sudah dilewatkan dalam transaksi komunikasi tersebut. Data dan informasi ini akan berguna sekali untuk pengguna maupun administratornya. Biasanya informasi ini akan digunakan dalam melakukan proses auditing, membuat laporan pemakaian, penganalisisan karakteristik jaringan, pembuatan billing tagihan, dan banyak lagi. Fasilitas accounting pada jaringan remote access umumnya juga memungkinkan Anda untuk melakukan monitoring terhadap layanan apa saja yang digunakan oleh pengguna. Dengan demikian, fasilitas accounting dapat mengetahui seberapa besar resource jaringan yang Anda gunakan. Ketika fasilitas AAA diaktifkan pada sebuah perangkat jaringan remote access, perangkat tersebut akan melaporkan setiap transaksi tersebut ke keamanan server. Tergantung pada protokol sekuriti apa yang Anda gunakan, maka cara melaporkannya pun berbeda-beda. Setiap record accounting akan mempengaruhi nilai-nilai atribut dari proses AAA yang lain seperti authentication dan authorization. Semua informasi yang saling terkait ini kemudian disimpan di dalam database server sekuriti atau jika memang diperlukan, kumpulan informasi ini dapat disimpan di server khusus tersendiri. Biasanya server khusus billing diperlukan jika penggunanya sudah berjumlah sangat banyak. Berikut ini adalah contoh cara kerja RADIUS:
    1. Sebuah Wireless Node (WN) / Supplicant dengan alamat IP 192.168.10.30 dan IP yang telah terdaftar dalam pemfilteran MAC ADDRESS meminta akses ke wireless network atau Access Point (AP).

    2. Access Point (AP) akan menanyakan identitas Supplicant. Tidak ada trafik data selain Client yang diperbolehkan sebelum Supplicant terautentikasi. Dalam hal ini, Access point bukanlah sebuah autentikator, tetapi access point berisi autentikator.

    3. Setelah nama-pengguna dan password dikirim, proses autentikasi dimulai. Autentikator mengenkapsulasi kembali pesan ke dalam format RADIUS, dan mengirimnya ke RADIUS server. Selama proses autentikasi, autentikator hanya menyampaikan paket antara Supplicant dan RADIUS server. Setelah proses autentikasi selesai, RADIUS server mengirimkan pesan sukses (atau gagal, apabila proses autentikasinya gagal.) Apabila proses autentikasi sukses, Supplicant diperbolehkan untuk mengakses wireless LAN dan/atau internet.

    4. Jika nama Supplicant tidak terautentifikasi, maka radius server akan mengirim pesan gagal. Dan proses authentifikasi tidak berjalan atau gagal.
Contoh Implementasi

RADIUS umumnya digunakan oleh ISP (Internet Service Provider) atau penyedia layanan internet untuk melakukan Authentication (pembuktian keaslian pengguna), Authorize (mengatur pemberian hak/otoritas) dan Accounting (mencatat penggunaan layanan yang digunakan).

RADIUS menjalankan sistem administrasi pengguna yang terpusat. Sistem ini akan mempermudah tugas administrator. Dapat kita bayangkan berapa banyak jumlah pelanggan yang dimiliki oleh sebuah ISP, dan ditambah lagi dengan penambahan pelanggan baru dan penghapusan pelanggan yang sudah tidak berlangganan lagi.

Apabila tidak ada suatu sistem administrasi yang terpusat, maka akan merepotkan administrator dan tidak menutup kemungkinan ISP akan merugi atau pendapatannya berkurang.

Dengan sistem ini pengguna dapat menggunakan hotspot di tempat yang berbeda-beda dengan melakukan autentikasi ke sebuah RADIUS server.