ATASI KRISIS ENERGI & GLOBAL WARMING DENGAN TEKNOLOGI NUKLIR

Kenaikan harga bahan bakar di Indonesia semakin memicu perdebatan dikalangan masyarakat bahkan para wakil rakyat. Semakin menipisnya sumber energi tak terbarukan(seperti minyak bumi, gas, dan batu bara yang menjadi sumber energi listrik terbesar di dunia) mendorong putra putri bangsa untuk berkontribusi dalam menciptakan sumber energi alternatif. Namun, penawaran solusi tersebut sepertinya berhenti sampai pada tahap penyampaian pendapat saja, belum ada upaya merealisasikan secara pasti.

Ketika krisis listrik kembali terjadi, yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki jaringan, menambah daya terpasang, meningkatkan menejemen operator, lalu tentu saja rakyat kembali dibebankan kenaikan harga termasuk tarif dasar listrik. Di lain pihak, pemerintah telah mengupayakan pemanfaatan sumber energi alternatif lain dengan perencanaan pemanfaatan teknologi nuklir. Akan tetapi upaya ini belum juga terealisasi dengan baik, karena pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri mengenai pemanfaatan energi nuklir,serta masih mengkaji hingga lingkup efek positif dan negatif tidak lagi menjadi perdebatan yang akan merugikan bagi pemerintah. Di kalangan masyarakat sendiri masih muncul tanggapan pro dan kontra terhadap kebijakan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Hal tersebut muncul dikarenakan masih minimnya pendidikan mengenai teknologi nuklir dikalangan masyarakat. Bagi sebagian masyarakat awam, kata nuklir erat kaitannya dengan kehancuran, kerusakan, dan sesuatu yang mematikan. Hal tersebut yang menyebabkan ketakutan, sehingga beberapa orang, kelompok, bahkan negara memilih untuk tidak memanfaatkan energi nuklir.

Padahal, jika ditilik lebih lanjut, pemanfaatan energi nuklir yang tepat akan lebih menguntungkan dan lebih efisien. Selain jumlah ketersediaan bahan bakar nuklir yang melimpah, dan biaya bahan bakar yang rendah, kelebihan dari aplikasi penggunaan PLTN adalah tidak terbentuknya emisi gas rumah kaca, karena tidak menggunakan peralatan proteksi lingkungan seperti DeSOx dan DeNOx. Dengan penggunaan PLTN, message.polusi udara oleh gas-gas berbahaya seperti karbon monoksida, aerosol, mercury, sulfur dioksida, nitrogen oksida, partikulate, atau asap fotokimia dapat dikurangi.

Pertimbangan tersebut menyebabkan semakin diperlukannya energi nuklir, akan tetapi masyarakat Indonesia sendiri pada umumnya masih terprovokasi oleh isu-isu mengenai bahaya nuklir terutama atas limbah nuklir. Berbagai sosialisasi mengenai pembangunan PLTN dan tenaga nuklir sudah mulai dilaksanakan, akan tetapi belum dapat menjawab kegelisahan masyarakat mengenai langkah untuk mengatasi limbah nuklir tersebut. Banyak program sosialisasi yang hanya membahas mengenai bahaya nuklir tanpa mau memberikan informasi dampak positif dari penggunaan tenaga nuklir tersebut.

Masyarakat juga masih berfikir bahwa energi alternatif seperti biofuel, gelombang laut, sinar matahari dan gas bumi mampu mengatasi krisis listrik tanpa harus mengeluarkan dampak limbah berbahaya sepperti limbah nuklir. Namun, pada dasarnya semua energi alternatif tersebut tidak dapat memberikan dampak signifikan terhadap permasalahan krisis energi. Jika memang ingin membebaskan bangsa ini dari krisis energi yang harus dilakukan terlebih dahulu ialah menumbuhkan kepercayaan masyarakat mengenai kebermanfaatan tenaga nuklir dengan mengadakan sosialisasi tenaga nuklir secara tepat dan berimbang. Marilah kita hentikan global warming dan krisis energi dengan mendukung teknologi nuklir.

Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

Saat ini, pemerintah melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) bersama Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkoninfo) melakukan sosialisasi di Jateng mengenai rencana pembangunan proyek PLTN di Jepara. Rencananya, PLTN yang dipersiapan beroperasi pada 2015 akan menambah catu daya sekitar 5.000 hingga 7.500 megawatt (MW). Proyek PLTN terpadu dengan perkirakan 5-6 reaktor, 1 reaktor berkapasitas 600-1.000 MW. Rencana pembangunan PLTN di Indonesia kurang saya setujui, karena faktor :

Keamanan. Indonesia adalah Negara kepulauan dan berada pada wilayah Lingkaran Api atau tempat pusat bertemunya beberapa lempeng bumi, hal ini menyebabkan Indonesia rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami dan dapat terjadi pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan kanker thyroid. Ketergantungan Terhadap Negara Lain. Di Indonesia memang terdapat tambang Uranium di Kalimantan, namun Uranium tersebut masih harus mengalami proses pengolahan yang lama dan membutuhkan biaya banyak. Jika mau mudah, hanya bisa membeli di negara lain. Artinya ketergantungan selama 40 tahun (masa hidup reaktor). Biaya yang Mahal. Indonesia masih sangat kekurangan pengalaman tenaga kerja dan butuh banyak peralatan yang harus di impor dari negara luar, hal itu akan menyebabkan banyak memakan biaya yang sangat besar. Belum lagi jika terjadi kerusakan besar dan memakan waktu perbaikan yang lama, Tenaga Ahli-nya pun harus yang sudah berpegalaman, dan Tenaga Ahli yang sudah berpengalaman tersebut tidak terdapat di Indonesia, maka harus melakukan pengeluaran besar untuk memanggil Tenaga Ahli dari luar negeri tersebut.

Saran saya terhadap pembangunan PLTN di Indonesia adalah, sebaiknya di lakukan pelatihan oleh Tenaga Ahli luar hingga dapat melaksanakannya sendiri terlebih dahulu, mulai dari cara mengolah bahan baku, pembangunan, pendaur-ulangan limbah yang
mungkin dihasilkan, sampai kerusakan yang dapat terjadi. Sehingga kedepannya, Indonesia tidak perlu membutuhkan biaya untuk membeli bahan baku (karena sudah dapat mengolah dengan baik), dan Tenaga Ahli untuk perbaikan. Karena ledakan reaktor nuklir dapat menyebar hingga radius 15-25 KM. Sebaiknya pembangunan di lakukan di daerah terpencil, dan dekat dengan sumber bahan baku. Sebab meskipun terjadi kecelakaan, tidak menyebabkan efek yang terlalu besar bagi kehidupan disana.

Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

Di Indonesia gagasan untuk pembangunan PLTN sebenarnya telah ada semenjak tahun 1956, namun pada tahun 1972 ide tersebut baru muncul bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan di adakannya seminar yang menghasilkan bahwa PLTN harus di kembangkan di Indonesia dan pada saat itu juga di usulkan 14 tempat untuk pembangunan PLTN yang salah satunya di Semenanjung Muria. Namun yang sangat di sayangkan, sampai pada saat ini pembangunan PLTN belum juga dapat terlaksana di karenakan banyaknya alasan-alasan.

Mengapa Indonesia sepertinya sangat ketakutan untuk membangun sebuah rektor nuklir? Apakah dikarenakan dampaknya pada global warming? Padahal PLTN tidak menyebabkan polusi udara yang begitu parah, limbah dari PLTN hanya berupa H2O, CO2, dan limbah-limbah lain yang akan kembali pada kolam penampungan agar dampak dari radiasi dapat di abaikan. Apakah karena takut dengan dampak negatif nuklir? Seharusnya kita tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut secara berlebihan karena reaktor nuklir telah dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, selain itu pembangunan PLTN dari tahap perencanaan rencangan bangunan sampai dengan tahap dekomisioning akan di awasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir Internasional dan Badan Pengawas Dalam Negeri, jadi tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hal tersebut secara berlebihan.

Kalau menurut saya sebaiknya pembangunan PLTN dilaksanakan di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, agar masyarakat menjadi lebih tenang namun walaupun begitu harus di adakan penyuluhan terlebih dahulu kepada masyarakat khususnya warga sekitar tempat pembangunan PLTN tentang PLTN tersebut, tujuannya agar masyarakat dapat lebih tenang lagi, nyaman dan dapat mempercayai pemerintah. Jika perencanaan sudah matang sebaiknya cepat dilaksanakan pembangunan PLTN karena batubara yang selama ini kita pakai sudah tinggal sedikit persediaannya, selain itu masyarakat Indonesia juga sangat membutuhkan PLTN agar mencapai taraf hidup yang lebih baik.

NUKLIR PENYELAMAT PERADABAN

Tahun-tahun terakhir, isu akan adanya pembangunan PLTN di Indonesia membangunkan minat warga akan tenaga nuklir. Sebelumnya, bidang nuklir tidak terlalu terekspos keberadaannya. Masalahnya, setelah nuklir menjadi terekspos, yang menjadi dominan di masyarakat adalah pandangan negatif terhadap energi alternatif ini.

Nuklir adalah salah satu sumber energi alternatif yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Jika dipertimbangkan melalui logika, pemerintah saat ini terlihat enggan menyetujui eksplorasi lebih lanjut akan tenaga nuklir dan pemanfaatannya. Pemerintah lebih fokus untuk meningkatkan layanan tanpa memperhatikan ketersediaan sumber daya. Akibatnya, tarif listrik pun terus meningkat. Padahal dari sekian banyak sumber energi, telah diteliti bahwa nuklir akan mampu menyumbang listrik sebesar 10% dari jumlah permintaan listrik di Indonesia.

Kesadaran akan lingkungan juga membawa nuklir pada topik berwawasan lingkungan atau tidak. Jawabannya adalah ya, nuklir adalah energi yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka pelestarian lingkungan, nuklir turut berperan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan global warming. Emisi CO2 nuklir ke udara jauh lebih sedikit dari pada sumber energi lain. Untuk ketersediaan Uranium, sebagai bahan baku reaktor nuklir, lebih besar dibandingkan dengan sumber energi lain. Yaitu, umur tenaga nuklir dapat mencapai 3600 tahun, sedangkan bahan bakar minyak akan habis 42 tahun lagi. Tanpa listrik, dunia akan menjadi kegelapan semata bukan? Inilah saatnya nuklir menjadi penyelamat peradaban.

Untuk Indonesia, diperlukan komitmen yang besar untuk membangun PLTN. Keselamatan dan kepengurusan limbah nuklir harus menjadi yang utama dalam pengadaan PLTN. Masih diperlukan sumber daya manusia yang secara kualitas dinyatakan lulus untuk mengurusi bidang ini. Sayangnya, ketertinggalan dalam bidang IPTEK terpampang jelas dalam aksi-aksi penolakan nuklir. Fakta tersebut sebaiknya dijadikan tantangan bagi bangsa Indonesia sendiri untuk mengambil tindakan yang secara ekonomis menguntungkan, yaitu penggunaan energi nuklir. Mungkin masih diperlukan waktu dalam menciptakan persetujuan mayarakat akan tenaga nuklir ini. Tetapi jika tidak dilakukan sekarang, kapan lagi?

Oleh Bernardia Vitri Arumsari

Balada PLTN di Indonesia

PLTN merupakan ide yang diangkat pada tahun 1956, melaui pernyataan pada seminar-seminar pada masa itu. Artinya rencana PLTN di Indonesia sudah berumur kurang lebih 54 tahun. Meski sudah lama bekerja sama dalam perencanaan, perancangan, dan sebagainya. PLTN di Indonesia masih belum juga dibangun dengan sebab dan alasan yang
beraneka ragam. Dari sekian banyak tempat yang pernah diusulkan untuk membangun sbuah poyek PLTN, akhirnya hanya Semenjung Muria-lah yang terpilih. Meski sampai sekarang PLTN masih menuai banyak kecaman berupa penolakan, terutama warga desa sekitar tempat yang direncanakan akan dibangun PLTN tersebut, Desa Balong.

Sampai saat ini, yang masih membuat bingung adalah, mengapa harus Semenanjung
Muria? Bahkan ada kabar daerah Banten juga akan dibangun PLTN.Mungkin saja penolakan-penolakan yang terjadi selama ini karena ada dua f-brothers (ciptaan penulis).Mereka adalah Green Community dan WWF dan yang ingin penulis tekankan, mengapa mereka ikut menolak? Bukankah di negara mereka juga dibangun PLTN? Memang, Indonesia seringkali disebut-sebut sebagai paru-paru dunia karena hutannya yang luas nan lebat.Tapi Indonesia juga tidak kalah sering mendapat kecaman, dampak isu global warming. Mengapa? Bukankan limbah PLTN hanya berupa air, CO2, dan limbah lain yang harus dkembalikan?

Untuk itu, hendaknya Indonesia harus berani melawan.Harus ada orang Indonesia yang membuktikan bahwa tidak benar tingkat “penghasilan” gas CO2 di Indonesia sangat tinggi. Selain itu, pemerintah juga perlu mendesak instansi-instansi terkait untuk mencari tempat baru yang kira-kira lebih mungkin untuk dibangun PLTN. Bukankah Indonesia memiliki beribu-ribu pulau? Hendaknya kita membangun PLTN di pulau terpencil agar tidak ada yang protes. Jikalau masih ada, karena alasan pencemaran laut, kita minta saja badan internasional yang menangani masalah nuklir untuk ikut mengawasi. PLTN sangat dibutuhkan di Indonesia, bagaikan tubuh yang kekurangan darah, Indonesia tidak akan mampu berkembang secara optimal jikalau masih ada permasalahan energi, khusunya listrik.

Program Wartel dengan Bahasa C

Hhhmmmm......, setelah sekian lama tidak ngeblog, akhirnya ngeblog juga...:-))
Disini, saya akan membuat contoh program menu berulang untuk wartel. Meskipun sekarang wartel di Indonesia sudah jarang sekali atau bahkan sudah tidak ada mungkin, karena sudah tergantikan dengan teknologi baru yaitu handphone.
Namun tidak ada salahnya mengetahui program dari wartel, hal nilah yang membuat saya bertanya-tanya sewaktu kecil, bagimana ya kok bisa menghitung tarif pulsa, waktu, dan lainnya.
Dalam program ini saya menggunakan bahasa C, bahasa yang fleksibel tapi cukup sulit untuk menguasainya, dan juga menggunakan compiler Borland C/C++. Anda juga bisa menggunakan compiler yang lainnya.
Program ini inputannya kode wilayah, nomor telefon, jam mulai dan jam selesai.
Menu 1 : melihat informasi percakapan
Menu 2 : menghitung durasi lama bicara
Menu 3 : menghitung biaya percakapan (berdasarkan wilayah)
Menu 4 : keluar
berikut ini programnya....

#include
#include

main()
{
typedef struct { int jj;
int mm;
int dd;
} jam;
jam w1, w2, w3;
int menu, i;
int kode;
int nomor;
long int totaldetik1, totaldetik2, durasi;
int lamapulsa, tarifpulsa;
int pulsa, biaya;

printf ("<---------------------.::Menu Wartel::.--------------------->\n");
printf ("\nMenu 1 : Melihat informasi percakapan");
printf ("\nMenu 2 : Menghitung durasi lama bicara");
printf ("\nMenu 3 : Menghitung biaya percakapan");
printf ("\nMenu 4 : Keluar\n");
printf ("\nDaftar Kode Wilayah\n");
for (i=0;i<=60;i++)
{ printf ("-"); }
printf ("\n");
printf ("Kode\tWilayah Kota\tTarif Tiap Pulsa\tLama Pulsa\n");
for (i=0;i<=60;i++)
{ printf ("-"); }
printf ("\n");
printf ("021\tJakarta\t\tRp 150\t\t\t1 menit");
printf ("\n0751\tPadang\t\tRp 250\t\t\t30 detik");
printf ("\n0737\tMedan\t\tRp 375\t\t\t25 detik");
printf ("\n0912\tBalikpapan\tRp 415\t\t\t20 detik");
printf ("\n0981\tTernate\t\tRp 510\t\t\t17 detik\n");
for (i=0;i<=60;i++)
{ printf ("-"); }
printf ("\nMasukkan kode wilayah yang dituju = 0"); scanf ("%d",&kode);
printf ("\nNomor Telepon tujuan = "); scanf ("%d",&nomor);
printf ("\nJam mulai percakapan\n");
printf ("Jam\t= "); scanf ("%d",&w1.jj);
printf ("Menit\t= "); scanf ("%d",&w1.mm);
printf ("Detik\t= "); scanf ("%d",&w1.dd);
printf ("\nJam akhir percakapan\n");
printf ("Jam\t= "); scanf ("%d",&w2.jj);
printf ("Menit\t= "); scanf ("%d",&w2.mm);
printf ("Detik\t= "); scanf ("%d",&w2.dd);
do
{
pilih:
printf ("\nPilih salah satu menu dari daftar diatas = "); scanf("%d",&menu);

switch (menu)
{
case 1 : printf ("\nNomor telepon yang anda tuju adalah 0%d - %d",kode,nomor);
printf ("\nJam mulai percakapan %d : %d : %d",w1.jj,w1.mm,w1.dd);
printf ("\nJam akhir percakapan %d : %d : %d",w2.jj,w2.mm,w2.dd);
break;
case 2 : totaldetik1 = (w1.jj*3600) + (w1.mm*60) + w1.dd;
totaldetik2 = (w2.jj*3600) + (w2.mm*60) + w2.dd;
durasi = totaldetik2 - totaldetik1;
printf ("\nDurasi anda melakukan percakapan adalah %d detik\n",durasi);
break;
case 3 : if (kode == 21){lamapulsa = 60;
tarifpulsa = 150;}
if (kode == 751){ lamapulsa = 30;
tarifpulsa = 250;}
if (kode == 737){ lamapulsa = 25;
tarifpulsa = 375;}
if (kode == 912){ lamapulsa = 20;
tarifpulsa = 415;}
if (kode == 981){ lamapulsa = 17;
tarifpulsa = 510;}
totaldetik1 = (w1.jj*3600) + (w1.mm*60) + w1.dd;
totaldetik2 = (w2.jj*3600) + (w2.mm*60) + w2.dd;
durasi = totaldetik2 - totaldetik1;
pulsa = durasi/ lamapulsa;
biaya = pulsa*tarifpulsa;
printf ("\nBiaya percakapan anda adalah Rp. %d\n",biaya);
break;
case 4 : printf ("\n<---------.::Terima Kasih Telah Menggunakan Jasa Layanan Kami::.--------->");
break;
}
} while (menu<=3);
if (menu > 4) { printf ("...::Maaf anda salah memasukkan menu::...");
printf ("\n<------Silahkan pilih menu kembali------>\n");
goto pilih; }
getch();
}

Selamat mencoba.....

Kompor Berbahan Bakar Air Buatan Mahasiswa ITS

Biasanya kompor menggunakan minyak tanah atau gas sebagai bahan bakar. Namun, kini telah hadir teknologi kompor berbahan bakar air. Kompor yang diberi nama Oxyhidro Water Stove tersebut merupakan inovasi tiga mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Kreasi karya Cita Indah P W, Annie Mufyda R dan M Fahmi tersebut, bahkan mewakili ITS dalam kompetisi Intensive-Student Technopreneurship Program (i-Step) 2010. “Syukurlah, kami bisa menjadi salah satu bagian dari 22 tim terpilih lainnya dan berkesempatan mendapat pelatihan di Bogor akhir Juli mendatang,” ujar Fahmi, seperti dikutip dari Situs ITS, Rabu (21/7/2010).
Gagasan membuat kompor dengan bahan bakar alternatif berawal dari keprihatinan mereka melihat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan bakar fosil. Padahal, menurut Cita, suatu saat bahan bakar fosil akan habis jika kita tidak beralih ke bahan bakar alternatif.

Mekanisme kerja Oxyhidro memanfaatkan proses elektrolisis air yang menghasilkan gas H2 dan O2. Proses ini juga memanfaatkan katalis untuk memaksimalkan elektrolisis air. "Hidrogen yang dihasilkan dari elektrolisa tersebut lah yang digunakan sebagai bahan bakar Oxyhidro-Water Stove karena hidrogen adalah gas yang mudah terbakar," terang Annie.

Energi yang dihasilkan dari proses elektrolisis air tersebut dikenal sebagai brown gas. Annie menambahkan, keuntungan memanfaatkan hidrogen adalah nyalanya lebih panas dibandingkan gas alam. Karena penggunaan hidrogen tiga kali lebih efisien dibandingkan gas alam, maka memasak menggunakan Oxyhidro Water Stove tiga kali lebih cepat dan efisien.

“Lebih hemat Rp6.000 per hari atau 96 persen lebih hemat dari kompor gas,” klaim Cita.

Sebenarnya, penggunaan air sebagai bahan bakar alternatif bukanlah hal baru. Jepang bahkan telah menggunakan air sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Saat ini, penelitian mengembangkan energi alternatif dengan memanfaatkan air pun marak dilakukan.

sumber

Menengok Jawa Timur Di Masa Lalu

Presiden Soekarno pernah berkata bahwa, 'Jangan Sekali - Sekali Melupakan Sejarah'. Pernyataan Sang Presiden ini yang sangat mengesankan dapat menginspirasi para penerus bangsa ini untuk terus berjuang. Pernyataan yang sering disingkat dengan 'Jas Merah' ini akan terus terngiang dalam pikiran, kenapa? karena tanpa adanya masa lalu, tidak mungkin akan ada masa sekarang, mungkin itulah yang dapat diartikan.
Barangkali Indonesia tidak akan lahir tanpa adanya faktor sejarah, dan mungkin juga propinsi yang berdiri di Indonesia tercinta ini tidak akan ada tanpa adanya faktor sejarah.

Dan Salah satunya Propinsi Jawa Timur, Jawa Timur yang merupakan salah satu propinsi terbesar di Indonesia, dimana presiden Soekarno dilahirkan dan dimakamkan di propinsi ini juga memiliki faktor sejarah.
Berikut ini saya mau menampilkan beberapa gambar atau photo dari daerah Jawa Timur pada masa pendudukan Pemerintah Hindia Belanda.

Bondowoso - Aloon aloon ~1910
Bondowoso punya alun-alun yang lumayan gede dipusat kota. Paling senang ke sana pada malem minggu, karena memang pasti orang-orang pada berkumpul di sana. Ada yang jualan mainan anak-anak sampai jualan makanan kaki lima di sepanjang jalan alun-alun itu. Tapi pada hari biasa dari senin sampai jumat, kota Bondowoso bisa dibilang sepi sekali. Paling enak jalan pagi, paling enak mutar-mutar di seputaran alun-alun karena aktifitas pagi sampai siang juga tidak terlalu padat. Beda sama Surabaya apalagi Jakarta. Beda banget!
Bondowoso... setiap orang yang tahu nama kota ini selalu mengatakan "Kota Tape", dan memang Bondowoso paling banyak memproduksi Tape Singkong.

Banjoewangi - Wartel 1909
Kartupos ini memperlihatkan warung telepon di Banyuwangi. Pada awal abad ke-20 telepon masih merupakan puncak dari modernitas. Pada tahun 1882 pemerintah Hindia Belanda sudah mendirikan telepon di kota Batavia. Kemudian, disusul telepon interlokal tahun 1896 yang menghubungkan kota lain. Pemerintah mendirikan warung telepon di kota-kota di seluruh pulau Jawa. Wartel yang tersebut adalah gedung bagus dengan arsitektur modern. Letaknya di pusat kota. Cukup menarik untuk merekam dengan pesawat foto. Orang Banyuwangi di jalan memandang kepada fotografer kaya mereka belum pernah lihat kamera.
Banjoewangi- Messigit ~1910

Djember - kotta 1900an
Pusat kota Jember adalah sesuatu jalan yang menghubungkan Alun-alun dengan pasar. Pada jaman dulu, jalan ini disebut “Passerweg” (Jalan Pasar) atau “Jalan Raya”. Disini ada macam-macam toko. Kartupos ini memperlihatkan panorama dari Alun-alun mengarah ke barat. Pejalan kaki melintasi jalan ini di bawah naungan rindang pohon yang di pinggiran. Sejak dulu kota Jember berreputasi sebagai salah satu kota paling bersih di pulau Jawa.

Sekarang Jalan Pasar bernama Jalan Raya Sultan Agung. Foto diambil dari jembatan penyeberangan.

Kota Jember, terkenal sebagai Kota Tembakau karena terdapat perkebunan tembakau besar yang menjadi sentral perkebunan beberapa pabrik rokok terbesar Indonesia, terletak 250 kilometer sebelah Tenggara kota Surabaya di jalur utama Surabaya-Jember-Banyuwangi. Jember mulai tumbuh sebagai kota pada 1850-an ketika George Birnie, seorang keturunan Skotlandia, membuka perkebunan dan memasarkan tembakau dari Jember ke Eropa. George Birnie menikah dengan Rabina, perempuan Jawa.
Djember Kotta 1900an
Jember pada dasarnya tidak mempunyai penduduk asli. Hampir semuanya pendatang, mengingat daerah ini tergolong daerah yang mengalami perkembangan sangat pesatkhususnya di bidang perdagangan, sehingga memberikan peluang bagi pendatang untuk berlomba-lomba mencari penghidupan di daerah ini. Mayoritas penduduk yang mendiami Kabupaten Jember adalah suku Jawa dan Madura, disamping masih dijumpai suku-suku lain serta warga keturunan asing sehingga melahirkan karakter khas Jember dinamis, kreatif, sopan dan ramah tamah. Bahasa Jawa dialek Jember agak beda dengan Jogjakarta atau Solo. Orang Jember memakai kata “koen” atau “kowe” untuk panggilan orang kedua.
Oleh-oleh khas Jember adalah tape (singkong yang diragikan) atau suwar-suwir (manisan dari tape, rasanya empuk-empuk manis).

Djember - Salon toekang ramboet 1909
“Salon de coiffure” (bahasa Perancis) berarti “ruang potong rambut“. Sekarang bahasa Indonesia berkata “Salon“ saja. Salon ini bernama “Limoen“. Nama ini sedikit aneh. Mungkin tamu menerima sop-drink limun. (Atau mungkin pemilik adalah seorang tionghoa yang bernama Lim Oen?)

Di depan salon ada papan iklan “Haarknippeer Limoen“. Haarknipper (bhs Belanda) berarti tukang potong rambut. Didepan salon dua ekor ayam dan seorang berpakaian bagus dengan tas hitam berdiri. Depan pintunya sebuah jembatan bambu menyeberang parit. Salon didirikan di rumah sederhana sekali. Atap salon berbahan sirap kayu. Rumah tetangga kiri lebih maju. Atapnya ada genteng modern. Didepan rumah tetangga seorang sedang mencuci baju.

Djember - Huis ten bosch 1906


Djombang - Hotel Paviljoen 1920an

Kedirie Aloon-aloon 1900an-2007

Kartu pos ini saya mendapatkan di sesuatu tempat sampah. Kartunya dibuang oleh seorang pengumpul perangko setelah perangkonya diambil. Dia tidak suka kartu ini. Jarang sekali kartu kuno dari kota Kediri dapat kita temui.

Di bayangan pohon beringin 7 orang mau buka warung makan. Ada kursi dan meja sederhana yang berbahan kayu. Di bawah mejanya seekor anjing sedang memandang fotografer. Di tengah alun-alun seekor kambing makan rumput. Di meja berada piala-piala dan piring-piring bersih dan banyak makanan bungkus dan satu sisir pisang juga, dan buah-buahan lain. Di sisi kanan ibu dan ayah memangku anak. Mereka sedang masak. Tiga pemuda merokok di sisi kiri. Sampai sekarang kota Kediri adalah kota industri rokok. Semuanya memakai kemeja dan sarung. Gedung di latar belakang mungkin adalah mesjid. Langit barat berwarna merah. Berarti matahari mau benam. Sebentar lagi jam makan mau mulai. Warung ini akan ramai. Sesudah kenyang, tamu akan kasih sisa makanan kepada anjing yang di bawah meja. Dia sudah menunggunya dengan penuh selerah.

Alun-alun Kediri 2007



Kediri - Jembatan Lama 1910an-2008

Di kota Kediri sungai Brantas yang merupakan sungai yang terlebar se-Jawa sudah lebar sekali. Struktur kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Sekarang Kediri ada 3 jembatan di seberang Brantas. Jembatan ini adalah jembatan yang tertua jadi dipanggil Jembatan Lama. Jembatan ini menjadi saksi perjuangan rakyat Kediri saat Jepang invasi ke Kediri pada 5 Maret 1945 dan pada tahun revolusi 1945-49 jembatan ini menjadi tempat pertempuran lagi.

Menurut cerita rakyat seekor buaya putih tinggal di sungai Brantas di bawah jembatan ini.
Jembatan Lama 2008


Kediri - Perempatan Nggoemoel 1910an
Kartupos ini memperlihatkan mobil di Perempatan Nggumul di Kediri. Di perempatan ini kita melihat warung dan pos kamling. Jalan lurus dari posisi fotografer menuju ke kota Kediri, jalan kanan ke Pare dan ke Malang. Sekarang semua bangunan dari kartupos ini sudah hilang. “Weg naar Paree" berarti "Jalan ke Pare".


Foto dari Google Earth. Tanda 1 mengunjukkan posisi fotografer 1910-an di perempatan lama. Perempatan ini sedang dipindahkan. Tanda 2 mengunjukkan tempat Tugu Gumul di perlimaan baru. Perempatan tersebut sekarang menjadi perlimaan, namanya Simpang Lima Gumul. Dekat sekali dari sini monumen Gumul sedang dibangun. Monumen ini bentuk dan ukurannya sama dengan Arc de Triomphe di Perancis. Proyek ini merupakan realisasi dari mimpi Bupati Sutrisno. Rencananya memang lahir setelah bapak bupati berkunjung ke kota Paris. Melihat Arc de Triomphe yang dibangun Kaisar Napoleon, sang bupati mulai membangun mimpi-mimpinya untuk memajukan Kediri. Dan, mimpi itu memang akhirnya benar-benar diwujudkannya. Kediri menjadi “Parijs van Java” ke-2 (Sejak dulu kota Bandung sudah disebut “Parijs van Java”). Mimpinya butuh dana Rp 220 miliar.


Bangunan Tugu Gumul dirancang tim arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Proyek mau selesai tahun 2009.
“Arc de Sutrisno” 2007.

Kediri - Station 1900an-2008

Stasiun kereta api di Kediri adalah salah satu stasiun paling tua di Indonesia. Stasiun ini dibangun pada tahun 1882 dalam gaya arsitektur neoklasik yang simetris dan indah. Tahun itu 1882 jalur rel kereta api yang menghubungkan Kediri dan Surabaya dibuka juga. Kiri dan kanan dari pintu masuk kita melihat dua lampu minyak. Sebentar lagi kereta api mau datang. Depan pintu masuk banyak kereta kuda sudah sedang menunggu penumpang. Sekarang stasiun ini masih berfungsi tapi pohon cemara di depan sudah hilang.


Kediri - Station2008

Lawang - Pasar 1910an

Nongko Djadjar - Pasar 1920's

Desa Nongkojajar adalah salah satu daerah pusat perkebunan tanaman keras seperti kopi, cengkeh, durian alpukat, mangga, jeruk, tebu. semangka, melon dan apel. Tidak sedikit diantaranya terdapat tanaman palawija seperti kentang, kol, kobis, selada dan berbagai tanaman pokok ubi2an seperti ketela dan singkong. Di pasar ini semua hasil perkebunan dijual oleh petani langsung kepada konsumen.

Pasoeroean - Pelaboehan 1910an
Dulu Pasuruan berkembang sebagai kota pesisir, memiliki pelabuhan nelayan, dan pusat pelelangan ikan laut. Letak geografisnya yang strategis menjadikan Pasuruan sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara. Karena kondisi geografisnya, pelabuhan ini memiliki kedalaman kolam sekitar 1,5 m. Ini tidak cukup untuk kapal laut. Sekarang akses ke sana tertutup lumpur lapindo.

Toko Tikauchi adalah konglomerat pertokoan jepang yang punya cabang di banyak kota pada tahun 1910-1920an. Toko Tikauchi adalah penerbit kartupos ini. Mungkin Nanyo adalah nama fotografer atau franchiser cabangnya yang di Pasuruan.


Pasoeroean Heerenstraat 1920an
Pasuruan menempatkan pusat pemerintahan Pribumi dan kolonial ditempat yang terpisah. Pusat pemerintahan Pribumi ada di pusat kota (alun-alun) sedang pusat pemerintahan Kolonial di didaerah orang Eropa di Heerenstraat (kini Jl Jayengrono).

Sarangan 1930an

Sitoebondo - Aloon aloon 1910an

Songgoriti - Goenoeng Panderman 1920an

Hotel Songoriti 1925

Kartupos berwarna ini memperlihatkan betapa kawasan Songgoriti masa itu masih asri. Tidak ada villa-villa seperti sekarang. Di latar depan masih ada kebun. Kartupos berjudul lengkap “Badhotel Songoriti Poststation Batoe bij Malang”. “Poststation” adalah pos ganti kuda yang didirikan di sepanjang Jalan Pos. Selain Jalan Raya Pos (Groote Postweg yang ternama) dahulu juga terdapat Jalan Pos yang kecil. Di “Batoe bij Malang” (= Batu dekat Malang) ternyata terdapat Jalan Pos dengan sebuah Pos juga. Kartupos dikirim dari Wlingi ke Perancis dengan prangko Nederlandsch-Indië 2 cent dan 3 cent yang ditempel di sisi gambar. Diberi cap Wlingi 4.11.25 (4 nopember 1925).

Hotel Songoriti, atau lebih lengkap disebut Badhotel Songoriti, didirikan pada tahun 1911 di tempat pemandian air panas yang sudah ada disini sejak selamanya di desa Songokerto, 3 km di sebelah barat dari Batu, Jawa Timur. Tambahan “Bad” berarti hotel punya pemandian. Sejak dahulu pemandian ini dibuat untuk mencuci pusaka dan airnya dapat menebuhkan berbagai penyakit. Diatas mata airnya terdapat Candi Songgoriti yang dibangun pada abad ke-9. Pada awal 1900an daerah ini dijadikan obyek parawisata. Departemen Pariwisata dari Batavia mempromosikannya Songgoriti dengan nama samaran “Swiss Kecil dari Jawa” Letaknya 975 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi gunung Arjuno, Welirang dan Panderman. Cuacanya sesegar Eropa. Waktu itu hotel ada fasilitas pemandian, tenis dan biliar. Sekarang gedung lama sudah hilang dan diganti resort dengan apartemen yang baru. Alamatnya Jl. Raya Songgoriti 51 Batu - Malang 65312
Songgoriti Resort 2008
Songgoriti - Badhotel 1916
Songgoriti Tjandi 1924

Songgoriti - Lebaksari 1920an
Foto ini memperlihatkan warung di tepi jalan dan mobil yang berjalan dari Songoriti ke arah Lebaksari lewat jalan raya yang penuh dengan tikungan tajam di sekitar daerah Songgoriti. Jalan ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Gunung tinggi yang terlihat paling kiri adalah Gunung Panderman. Sekarang jalan ini sudah diaspal dan ramai sekali dengan lalu-lintas.

Lebaksari adalah salah satu kampung di desa Ngroto, kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalan raya dari Malang ke Kediri melewati Lebaksari sekitar 5 km lewat Pujon.
Songgoriti - Lebaksari 2007an

Songgoriti - Lebak Sari 1910an
Kartupos ini memperlihatkan jalan raya dari Songorriti menuju ke Pujon. “Afgepaalde weg naar de badplaats Lebak Sari bij Malang” berarti “Jalan dibatasi dengan tonggak2 ke tempat pemandian Lebak Sari dekat Malang” Sekarang jalan ini sudah diaspal dan dilebarkan.

Lebaksari adalah salah satu kampung di desa Ngroto, kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jalan raya dari Malang ke Kediri melewati Lebaksari sekitar 5 km lewat Pujon. Januari 2007 lalu terjadi longsor jalan ini dan sampai sekarang masih belum aman dari bahaya longsor.

Songgoriti - Lebaksari 2007an

Songgoriti - Poedjon 1910an
Kartupos ini memperlihatkan jembatan yeng menyeberang air terjun. Foto dibuat mengarah ke Songoriti. “Afgepaalde weg naar de badplaats Lebak Sari bij Malang” berarti “Jalan dibatasi dengan tonggak2 ke tempat pemandian Lebak Sari dekat Malang” Sekarang jalan ini sudah diaspal dan dilebarkan. Suasanya masih sama tapi lalu lintas lebih modern. Kereta kuda diganti mobil, bis dan truk.
Songgoriti - Poedjon 2007an

Songgoriti - Poedjon 1910an
Kartupos ini memperlihatkan sebuah kereta kuda di jembatan yeng menyeberang air terjun. Foto dibuat mengarah ke Songoriti. Suasanya masih sama tapi lalu lintas lebih modern. Kereta kuda diganti mobil, bis dan truk.
2007

Songoriti - Gunung Arjuno 1920an
Kartupos ini memperlihatkan pemandangan dari jalan raya Songoriti-Pujon mengarah ke desa Songoriti yang terletak di lembah. Gunung tinggi di latar belakang adalah Gunung Arjuno. Sekarang Songoriti bukan desa kecil seperti dulu lagi. Songoriti adalah tempat wisata yang sudah penuh dengan hotel dan vila-vila.
Songoriti - Gunung Arjuno 2007an

Songgoriti - Poedjon 1920an
Foto ini memperlihatkan jalan ke Pujon dari Songoriti. Sekarang jalan ini sudah diaspal dan dilebarkan. Jalan ini melewati sebuah air terjun yang indah. Air dari air terjun melanjutkan perjalanannya sebagai sungai kecil yang berada diseberang jembatan kecil. Januari 2007 lalu terjadi longsor jalan ini dan sampai sekarang masih belum aman dari bahaya longsor.



















Tjampoerdarat - Goenoeng Boedeg ±1910
Dari jalan raya antara Trenggalek dan Tulungagung (provinsi Jawa Timur) sebuah bukit aneh terlihat. Nama bukit itu Gunung budeg. Gunung itu terletak di pinggiran selatan kota Tulungagung, di kacamatan Campurdarat. Dahulu Campurdarat terkenal dengan daerah rawa-rawa, yang lebih dikenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Campurdarat sekarang terkenal sebagai salah satu penghasil marmer terbesar di pulau Jawa. Campurdarat juga termasuk salah satu pusat industri dan perajin marmer.

Gunung ini sebenarnya kurang tepat jika dikategorikan sebagai gunung karena dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut terlalu kecil. Sebenarnya inilah sebuah bukit. Akses menuju gunung ini sangat mudah dijangkau, kurang lebih berjarak 8 km sebelah selatan kota Tulungagung di kecamatan Campurdarat. Untuk menuju kesana bisa menggunakan kendaraan umum jurusan tulungagung-popoh, turun di pasar boyolangu atau bisa di perempatan desa Tanggung (ada sekolah dasar SD Tanggung di perempatan tsb.

Di atas bukit terdapat sebuah candi, Candi Tritis namanya. Orang daerahnya suka mencari pesugihan di candinya. Tahun pembangunan candi ini sampai sekarang tidak diketahui. Mungkin sekali berasal dari jaman Majapahit.





Candi Tritis











Ada cerita bahwa pohon “bonzai” pernah ditanam orang Jepang di bukit-bukit ini dan pohon itu masih dicari oleh orang setempat. Sepertinya kini bonzai tersebut sudah tidak ada lagi. Di kaki bukit jalur juga bisa ditemui gua dengan relief di dindingnya. Sekarang goa ini tidak dapat dimasuki lagi karena pintunya ditutup dengan batu-batu dan tanah longsor. Dahulu, di puncak gunung terdiri sebuah tugu batu (35 x 35 cm, tingginya 50 cm) yang berasal dari jaman Majapahit, berukuran cerita dalam bahasa sansekerta. Tugu ini digunakan sebagai wadah penyimpan abu jenazah yang diperabuhkan. Beberapa tahun yang lalu tugu yang sangat bernilai seni dan bernilai sejarah ini dicuri. Mungkin sekali dijual di pasar gelap.
Rekonstruksi Tugu Budeg. Kini berlokasi dimana?

Menurut cerita penduduk setempat kejadian Gunung Budeg mirip dengan Gunung Tangkuban Perahu yang ada di Jawa Barat. Gunung Budeg (Budeg = Tuli) dinamai seperti itu karena ada batu besar di puncak sebelah barat yang menyerupai manusia duduk. Menurut cerita yang saya peroleh sebenarnya batu itu dulunya adalah seorang pemuda yang gagah perkasa. Dia mencintai seseorang wanita yang cantik. Tapi cintanya di tolak sama wanita tersebut. Untuk itu dia semedi dan memohon kepada Tuhan untuk bisa mendapatkan wanita itu. Pada waktu semedi yang makan waktu lama dia dipanggil-panggil oleh ibunya. Karena lama dia tidak jawab-jawab panggilan ibunya, ibunya jadi kesal. Kemudian mengutuk dia... jadilah dia gunung! Seketika itu sang anak berubah menjadi patung batu dan gunung tempat anak tersebut melakukan semedi kemudian dinamakan gunung budeg.
Patung batu Budeg.

Toempang Wendit, Malang 1912

Tosari - Kampoeng 1900an

Tosari Goa 1900an

Tretes ±1900

Kartupos yang dikirim pada tanggal cantik mengambarkan suasana pedesaan seperti dulu di Tretes. Tretes adalah desa (kini kota) yang menarik untuk dikunjungi. Terletak di lereng Gunung Welirang dan Gunung Arjuno di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, hawa daerah ini sangatlah sejuk dan dikelilingi dengan panorama alam yang memikat. Kawasan ini telah dikenal wisatawan sejak jaman Belanda.

Kini tretes sudah menjadi salah satu primadona wisata Jawa Timur yang ramai dikunjungi wisatawan. Bisa disebut “Las Vegas dari Jawa”. Dengan perbedaannya bahwa tempat judi seperti di Vegas di Tretes adalah tempat prostitusi. Ada banyak fasilitas wisata yang lain juga seperti pusat hiburan dan belanja, hotel berbintang, villa, restoran, lapangan tenis, kebun anggrek, suaka margasatwa Taman Safari. Tretes terletak hanya 55 km ke arah selatan dari Surabaya. Biasanya menjadi tujuan plesir orang-orang berduit dari Kota Surabaya dan sekitarnya.

Kartupos diterbitkan H. van Ingen dari Soerabaja ini berdasarkan foto dibuat oleh fotografer ternama Ohannes Kurkdjian. Beliau lahir di Armenia pada tahun 1851 dan pindah ke Jawa pada tahun 1885. Di Surabaya dia mendirikan studio “Foto Atelier Kurkdjian”. Fotonya biasanya bertema topografi dan antropologi. Dia meninggal di Surabaya pada tahun 1903.

Trenggalek - Peradjin keramik 1910an
Sejak jaman dahulu kala kerajinan keramik merupakan industri rumah tangga. Keramik adalah sejenis barangan yang diperbuat daripada tanah liat yang telah diproses, dibentuk dan dibakar bagi mengekalkan rupa bentuk tembikar tersebut. Keramik yang sudah dibakar memiliki kekuatan yang lebih dan tahan air. Biasanya pekerjaan pembuatan keramik secara turun-temurun. Mereka memakai alat kusus yaitu papan bulat yang dapat diputar untuk membuat barang keramik.

Roemah Sakit Kediri 1900an
Kartupos ini berjudul dalam bahasa Belanda « Het gebouw der ziekenverpleging te Kediri » artinya « Gedung untuk merawat orang sakit di Kediri»

Batoe Villa Bouman 1930an

Tidak diketahui siapa arsitek dari villa cantik yang bergaya arsitektur “Streamline Moderne” di kota Batu (Jatim) ini. Tetapi saya tidak heran kalau gedung dirancangkan oleh arsitek Albert Frederik Aalbers (1897-1961) dari Bandung. "Streamline Moderne" merupakan aliran dalam gaya utama Art Deco yang bau Modernisme juga. Tanda pengenal adalah tata letak ekspresif dan dekoratif dan garis-garis horisontal dan vertikal dalam arsitektur yang mengikuti bentuk garis arus yang dipakai untuk kereta api, kapal uap, mobil, dan kendaraan lain yang "cepat" pada tahun 1930an.

Pemilik dari villa ini adalah seorang pedagang mobil namanya Bouman. Pada waktu foto ini dibuat, villa baru dibangun dan taman belum selesai. Di halaman sudah terdapat kolam renang dan lapangan tenis. Pada periode Agresi Militer Belanda ke-1 (juli 1947) villa ini dibakar dan dihancurkan oleh TNI dalam rangka politik "bumi hangus".
Villa Bouman di Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur (pembesaran)

Hindoe Tempel Toempang ±1910-2009

• Tahun: ±1910
• Judul: Hindoe Tempel, Toempang-Malang (= Candi Hindu, Tumpang-Malang)
• Penerbit: Tidak diketahui

Kartupos memperlihatkan 27 orang yang berpose untuk fotografer di atas Candi Jago di kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Antara mereka adalah 3 pengendara sepeda yang berseragam militer. Mereka mengambil posisi paling tinggi di foto ini dan 3 sepedanya ditempatkan di teras di lantai 1, 2 dan 3. Didepan pintu atas kita dapat melihat seorang bule yang berposisi tidur. Dia memakai topi gaya eropa yang sedikit mirip topi dari 3 pengendara sepeda tersebut. Tetapi dia tidak menjadi bagian dari kumpulan mereka. Mungkin si londo ini adalah teman dari fotografer saja. Orang yang berpose di lantai 1 di belakang sepeda tidak mungkin bisa naik sepeda sendiri dengan memakai sarung. Semua orang di lantai 1 memakai ikat kepala kecuali yang berdiri di sebelah kiri. Dia memakai topi gaya eropa yang terlalu besar untuk kepalannya.

Candi Jago di Tumpang 2009

Arca Raksasa Kala, Tjandi Toempang ±1910-2009

• Tahun: ±1910
• Judul: Poortversiering Tjandi Toempang (= Hiasan gapura, Candi Tumpang)
• Penerbit: Ibu C. Boccage, Malang
• Fotografer: Neville Keasberry (1866-1944)

Kartupos memperlihatkan arca muka raksasa (kala) yang dulu mungkin menghiasi pintu candi. Kala ini terdapat di halaman situs Candi Jago di desa Jago, kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. Konon nama kecamatan Tumpang berasal dari bentuk candi tersebut. Candi ini dahulunya bernama Jayaghu. Didirikan pada masa kerajaan Singhasari sekitar tahun 1280 sebagai tempat pemakaman Raja Wisnuwardhana dan pernah diperbaiki oleh Adityawarman pada tahun 1343. Hayam Wuruk disebutkan pernah menziarahi candi ini.

Bangunan utama candi terletak agak kebelakang dan menduduki teras tinggi. Diduga pada bangunan utama itu diberi atap dari ijuk sebagaimana pura-pura di Bali. Situs candi Jago memiliki banyak relief cerita yang dipahatkan pada dindingnya. Di halaman terdapat beberapa sisa bangunan dan arca yang dahulu menghiasi candi Jago, termasuk kala ini. Beberapa arca lainnya disimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Kala dari Candi Jago, Tumpang 2009


sumber: djawatempodoeloe.multiply.com